ki ageng mangir

PERANG RANTAI EMAS

Posted on Januari 9, 2011. Filed under: ki ageng mangir |

Ketika terjadi tragedi berdarah antara Kerajaan Majapahit dan Demak sekitar th. 1478 M, dan pihak Majapahit yang mengalami kekalahan, maka keluarga besar Brawijaya V saling melarikan diri untuk meneyelamatkan jiwanya dari kejaran prajurit demak, dan salah satunya gugur putra menantunya yaitu Joko Sengoro. Salah satu anaknya adalah Joko Balut yang melarikan diri ke arah Barat sampai menetap di Gunung Kidul. Barangkali dan kemungkinan Joko Balutlah yang mungkin membawa salah satu pusaka kerajaan yang bernama Baru Klinting yang cukup ampuh dan tinggi daya supranaturalnya serta ujung tombaknya yang mengandung racun yang sangat berbisa. Pada saat tinggal di Gunung Kidul ia mempunyai keturunan yang bernama Angabaya I. Setelah Panembahan senopati berkuasa di Mataram sekitar Th. 1579 M, ada dua gerakan separatis yang satu dipimpimpin oleh Ki Gede Wanakusuma yang berkuasa di Tlatah Giring dan sebelah Barat dipimpin oleh Angabaya III. Untuk menumpas pembrontak dari Ki Gede Wanakusuma Panembahan Senopati ibarat berlayar sekali mengayuh mendapat dua pulau, yaitu bisa membunuh Wanakusuma, bekas kakak iparnya dan membunuh mantan istrinya yaitu rara lembayung yang melaggar sumpah. Konon demi wahyu keraton saat Panembahan Senopati belum menjadi raja masih bernama Danang sutawijaya ia memperistri Rara lembayung. Berhubung rara Lembayung wajahnya tidak cantik maka dicerai oleh Panembahan Senopati dalam keadaan hamil. Keduanya antara Lembayung dan Wanakusuma adalah sama sama putra dari Kiageng Giring III, atau Raden Mas Kertanadi. Panembahan Senopati memberi wasiat pada istrinya bila kelak jabang bayi lahir jangan sampai memberitahu siapa ayahnya, dengan meninggalkan sebilah keris tanpa sarung. Hal ini disanggupi oleh Rara Lembayung. Namun apa boleh buat setelah bayi lahir laki laki dan diberi nama Joko Umbaran dalam usia 20 tahun ia mendesak pada ibunya terus menerus untuk memberitahu siapa ayahnya. Singkat cerita setelah ditunjukan ayahnya, lalu ia mencari ayah dengan melalui perjuangan yang sangat berat. Setelah bertemu dengan ayahnya, Panembahan Senopati bersedia menerima sebagai anak asal bisa mencari sarung keris yang dibawa oleh Joko Umbaran atas pemberian dari ibunya yang bernama kayu purwosari. Hal ini adalah perintah sibolis yang artinya Joko Umbaran harus bisa membunuh Wanakusuma dan ibunya rara lembayung, yang melanggar janji.
Setelah berhasil Joko Umbara diakui sebagai anak dan diberi kedudukan oleh Panembahan Senopati sebagai Senopati Perang Mataram dan bergelar Pangeran Purboyo.
Lain halnya dengan Panembahan Senopati dalam hal menumpas pembrontakan yang dipimpin oleh Angabaya III menggunakan taktik PERANG RANTAI EMAS.
Alasan menggunakan Perang Rantai Emas ada 3 macam yaitu :

Apabila diserang menggunakan secara militer secara be-
sar besaran akan menghabiskan keuangan Mataram.
2. Apabila diserang secara militer secara besar besaran
akan jatuh korban yang cukup banyak, karena Angaba
ya III adalah musuh yang sulit untuk ditumpas.
3. Kalau diserang secara prajurit secara besar besaran
Angabaya III bukan levelnya.
Angabaya III bukan levelnya ( isitilah jawa Menang
ora kondang kalah wirang ).

Setelah pertempuran menggunakan perang rantai emas melalui jebakan perkawinan yang sukses antara Dewi Pembayun ( Dewi Retningrum ) dan Angabaya III, maka terkejutlah Angabaya III setelah tahu istri yang sedang mengandung adalah anak musuh bebuyutannya, dan diajak sowan ke Mataram.
Namun apadaya Angabaya III ibarat orang yang memakan buah Simala Kama, dimakan akan menemui nasib yang tragis dan tidak dimakanpun Angabaya III dalam perkawinannya dengan Pembayun sudah dukepung dengan prajurit pendem dari Mataram.
Dengan keberangkatannya Angabaya III dan Istri serta diiringi beberapa prajurit menuju Mataram diiringi tangis dan air mata oleh keluarga dan kerabatnya serta diberi nasehat agar berhati hati apabila sudah tiba di Mataram.
Memang telah menjadi kenyataan setelah tiba di luar keraton Angabaya III sudah dihadang oleh prajurit Mataram yang dipimpin oleh salah seorang Tumenggung yang sama sama ingin memperistri Dewi Pembayun.
Dasar Angabaya III seorang berjiwa prajurit orangnya cakap, ahli ilmu kanuragan dan mungkin punya ilmu kekebalan tubuh, maka terjadilah pertempuran yang tidak seimabang. Angabaya III berhadapan dengan seorang Tumenggung yang memimpin
pertempuran dan Tumenggung tersebut mati ditangan Angabaya III. Dengan luka yang sangat parah dan berjalan sempoyongan Angabaya III menjatuhkan diri dihadapan Sang Mertua Panembahan Senopati. Persoalan ia mati dibenturkan kepalanya di watu Gilang atau dengan cara lain itu walauhualam.
Tapi ada cerita lain dimana Panembahan Senopati memanggil Demang Tapanangkil untuk membawa jenasahnya keluar keraton. Jadi kalau kuburan Angabaya III yang ada di KOta Gede, separo didalam dan separo diluar itu sungguhan atau tidak kami ngga tahu.
Setelah Pembayun menjadi janda, ia hidup sebagai putri triman yang artinya hidup di luar keraton dan dalam keadaan hamil ia dikawinkan dengan Tumenggung Teposono putra Ki Ageng Karang Elo. Tumenggung Teposono setelah menjadi menantu Panembahan Senopati diberi wasiat agar kelak bayi lahir untuk dibunuh supaya tidak menjadi duri dalam daging untuk masa depan kerajaan Mataram. Setelah Pembayun melahirkan jabang bayi laki laki ibunya langsung meninggal dunia ( Sedo Konduran ), dan Ki Ageng Lo tidak tega untuk membunuh bayi yang tidak berdosa.
Maka bayi tersebut dibawa oleh Ki Ageng ke arah Barat sampai ke Tlatah Banyumas ( Kebumen ) dan diberi nama MADUSENO, sedang yang dikubur adalah ari arinya.
Cekap semanten lebih dan kurang nyuwun agunging pangapunten.

 

Nb;  keturunan Ki Ageng Mangir (PH maduseno, Pnh Djoyosoro, Pnh Soroboyo, Rng Dm Wangsayuda, dll) ada di Karanganjar, Kebumen tepatnya di desa candi dan saat pecah perang diponegoro keturunannya banyak yang mengungsi ke arah barat di Banyumas, namun kebenarannya perlu ditelusuri silsilahnya. Ada juga di daerah mangir saradan Madiun.

 

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 9 so far )

GKR Pembayun Menziarahi Ratu Pembayun

Posted on Januari 9, 2011. Filed under: ki ageng mangir, umum |

WAJAH Gusti Kangjeng Ratu Pembayun nampak berseri-seri, ketika akhirnya makam yang dicarinya ketemu. H Nieko, sang calon suami pun nampak lega. Dengan bersemangat, Gusti Pembayun bercerita kepada Nieko, makam siapa yang mereka kunjungi Kamis (9/5) sore itu. Sejak berangkat dari Keraton Kilen, Gusti Pembayun dan H Nieko (KPH Wironegoro) berniat akan menziarahi leluhur yang namanya mereka pakai berdua, untuk mohon doa restu.

“Ini makam Kangjeng Ratu Pembayun,” kata puteri sulung HB X.
“Lalu yang di sampingnya ini siapa?,” tanya Nieko.
“Ini abdi kinasihnya.”
“Apa?”
“Abdi terdekatnya.”
“Oh, sekretaris pribadinya?”
“Ajudan,” jelas Gusti Pembayun HB X.
“Oh, ajudannya,” sambung Nieko lagi.
Sang Sekar Kedhaton kemudian menjelaskan siapa Ratu Pembayun.
“Ratu Pembayun itu puteri sulung Panembahan Senopati. Suaminya adalah Ki Ageng Mangir, yang tadi makamnya juga kita sowani di Kotagede. Ki Ageng Mangir adalah musuh Panembahan Senopati. Nah, Ratu Pembayun ini diutus menjadi ledhek (pena- ri) untuk memikat Ki Ageng Mangir, agar Ki Ageng Mangir bisa ditaklukkan. Setelah bisa dikalahkan, Ratu Pembayun istri Ki Ageng Mangir kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo yang mencetuskan ide, bagaimana menaklukkan Ki Ageng Mangir. Beliau dimakamkan di sini,” tutur Gusti Pembayun HB X.
“Tapi, kamu nggak perlu seperti itu kan?,” ucap Nieko sambil menyusul duduk di samping Gusti Pembayun. Mereka berdua pun kemudian khusuk berdoa.

***

MAKAM Kangjeng Ratu Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati terletak di kompleks makam Ki Ageng Karanglo, di Dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul. Makam ini terletak sekitar dua kilometer di sebelah timur makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Amat berbeda dengan kompleks makam raja-raja di Kotagede maupun Imogiri yang nampak terawat rapi, kompleks makam ini sederhana. Bahkan menyatu dengan pemakaman umum.
Di deretan paling atas, hanya ada dua nisan, yang disatukan oleh sebidang lantai keramik putih. Makam Ratu Pembayun ada di sebelah barat dan makam abdi kinasihnya Nyi Aditjara di sebelah timur agak ke bawah. Kedua nisan ditutupi kain mori putih, pertanda dikeramatkan oleh para peziarah. Di bawah kedua makam ini terdapat beberapa makam tua, terlihat dari ukuran nisannya yang ekstra panjang dan besar.
Ditilik dari ukuran nisan Ratu Pembayun dan abdinya, makam tersebut belum lama dipugar.
“Rumiyin Kangjeng Ratu Pembayun boten kersa dipun sekar,” tutur Ny Among Arja Sumbaga, abdi dalem Keraton Kilen yang menyertai ziarah. (“Dulu, Ratu Pembayun tidak mau dipasangi nisan.”)
Juru kunci makam Ki Ageng Karanglo, Panewu Surakso Ismail kepada Bernas menuturkan, berdasarkan kisah yang ia terima dari leluhurnya yang juga jadi juru kunci makam, Ki Ageng Karanglo adalah salah satu penasehat Panembahan Senopati.
Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
“Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung,” tutur Surakso Ismail.

***

KISAH Ratu Pembayun hanya sampai di situ. Menurut Surakso Ismail, sejarahnya dihapus agar musuh Kerajaan Mataram benar- benar tuntas.
Seorang abdi dalem Makam Kotagede kepada Bernas menu- turkan, makam Ratu Pembayun memang berada di Karanglo. Namun, itu hanya tipu muslihat saja. Ada muatan politisnya. Di situ dibuatkan makam dan diformalkan sebagai makam Ratu Pembayun. Sedang Ratu Pembayun sendiri, pindah tempat dan berganti nama, hingga tak ada jejaknya.
Surakso Ismail sendiri tak bisa bertutur, kapan Ratu Pembayun meninggal dan di mana anak yang dikandungnya.
“Yang saya tahu, istri dan anak-anak Ki Ageng Karanglo dimakamkan di Prambanan,” ujar Surakso yang tiap Kamis dan Jumat membuka pintu makam untuk memberi kesempatan siapa pun untuk ziarah ke makam Ki Ageng Karanglo dan Ratu Pembayun.
Ziarah yang dilakukan GKR Pembayun dan H Nieko Messa Yudha, MSc, diawali dari makam Kotagede. Nisan pertama yang diziarahi adalah makam Ki Ageng Pemanahan. Kemudian berturut- turut Panembahan Senopati, Nyi Ageng Nis, Panembahan Djajaprana, Sultan Hadiwidjaja, Ki Juru Mertani, Kangjeng Ratu Kalinyamat dan Kangjeng Ratu Retna Dumilah (keduanya permaisuri Panembahan Senopati), Sri Sultan HB II serta makam- makam lainnya. Makam terakhir yang ditaburi bunga adalah makam Ki Ageng Mangir, yang terbelah dinding makam.
Dari Kotagede, dua sejoli ini melanjutkan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kasultanagungan. Berturut-turut mereka menziarahi kompleks makam Kaswargan, tempat bersemayamnya Sri Sultan HB I, dan HB III. Kompleks makam Peziarahan tempat beristirahatnya Sri Sultan HB IV, HB V dan HB VI serta Astana Saptarengga, tempat dimakamkannya Sri Sultan HB VII, HB VIII dan HB IX, termasuk nenek GKR Pembayun KRAy Windyaningrum HB IX.
Sebelum ziarah ke makam Ratu Pembayun, sepasang calon pengantin ini berziarah ke makam kakek-nenek buyutnya (orang tua KRAy Windyaningrum), RW Poerwowinoto dan RAy Poerwowinoto.
Jumat hari ini, mereka masih akan melanjutkan ziarah, antara lain ke TMP Kusumanegara Yogyakarta, tempat almarhum Kolonel R Soepono, kakek GKR Pembayun dimakamkan.

 

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

« Entri Sebelumnya Entri Berikutnya »

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.