serat

Siapa Sejatinya -Sabdo Palon Noyo Genggong- ?

Posted on Juli 11, 2011. Filed under: serat, spiritual, umum |

Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog/buku ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu.  -Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.-

Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum -Bhinneka Tunggal Ika-). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

Dalam -Dwijendra Tattwa- dikisahkan sebagai berikut :-Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama -Dharma Yatra-. Di Lombok Beliau disebut -Tuan Semeru- atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.-

Dengan kemampuan supranatural dan mata batinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam -Pagunung Anyar-). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.

Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supranatural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melan-ting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).

Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, 10 (sepuluh) pesan yang diperoleh dari kegaiban dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal.

-Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.

2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya.

-              Ayahanda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.

3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak.

-              Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.

4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat.

-              Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.

5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya.

-              Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.

6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang.

-              Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.

7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang.

-              Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.

8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang.

-              Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.

9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah.

-              Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.

10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.

-              Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditam-bah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun dibawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Ramalan dari Jayabaya untuk Dunia, dalam Serat Kalatidha

Posted on Januari 17, 2011. Filed under: kejawen, serat, umum |

Prabu Jayabaya adalah seorang raja bijaksana yang memerintah kerajaan Kediri pada abad ke-12 (1137-1159 M). Serat Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat, karya ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 M dan menjadi karya sastra yang ternama di Jawa. Karya sastra ini sebenarnya juga memberikan pencerahan fikriyah dan ruhiyah bagi pembacanya dan Karya sastra inilah yang diinginkan oleh Islam.

Zaman Kalabendu, adalah nama lain dari zaman kehancuran. Petikan dari Jayabaya dalam Serat Kalatidha tentang tanda-tanda zaman inilah yang akan saya tulis di sini.

Iki sing dadi tandane zaman kolobendu “Ini yang menjadi tanda zaman kehancuran”,

Lindu ping pitu sedino “Gempa bumi 7 kali sehari”,
Lemah bengkah “Tanah pecah merekah”,
Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara “Manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit”,
Pagebluk rupo-rupo “Bencana bermacam-macam”,
Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati “Hanya sedikit yang sembuh kebanyakan meninggal”,

Zaman kolobendu wiwit yen “Zaman kalabendu ditandai dengan”

Wis ana kreto mlaku tanpo jaran “Sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda”,
Tanah Jawa kalungan wesi “Tanah jawa dikelilingi besi”
Prau mlaku ing nduwur awang-awang “Perahu berjalan di atas awan melayang-layang”,
Kali ilang kedunge “Sungai kehilangan danaunya”,
Pasar ilang kumandange “Pasar kehilangan keramaiannya”,
Wong nemoni wolak-walik ing zaman “Manusia menemukan zaman yang terbolak-balik”,
Jaran doyan sambel “Kuda doyan sambal”,
Wong wadon menganggo wong lanang “Orang perempuan mempergunakan busana laki-laki”,

Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sebenere zaman ajur lan bubrahing donya “Zaman kalabendu itu diibaratkan zaman yang menyenangkan, zaman kenikmatan dunia, tetapi zaman itu sebenarnya zaman kehancuran dan berantakannya dunia”,

Mulane akeh bapak lali anak “Oleh sebab itu banyak bapak lupa dengan anaknya”,
Akeh anak wani ngelawan ibu lan nantang bapak “Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya”,
Sedulur podho cidro cinidro “Sesama saudara saling berkelahi”,
Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane “Perempuan kehilangan rasa malunya, laki-laki kehilangan rasa kejantanannya”,
Akeh wong lanang ora duwe bojo “Banyak laki-laki tidak punya istri”,
Akeh wong wadon ora setia karo bojone “Banyak perempuan yang tidak setia pada suaminya”,
Akeh ibu pada ngedol anaknya “Banyak ibu yang menjual anaknya”,
Akeh wong wadon ngedol awakke “Banyak perempuan yang menjual dirinya”,
Akeh wong ijol bojo “Banyak orang yang tukar menukar pasangan”,
Akeh udan salah mongso “Sering terjadi hujan salah musim”,
Akeh perawan tuwo “Banyak perawan tua”,
Akeh rondo ngelairake anak “Banyak janda melahirkan anak”,
Akeh jabang bayi nggoleki bapake “Banyak bayi yang lahir tanpa bapak”,
Wong wadon nglamar wong lanang “Perempuan melamar laki-laki”,
Wong lanang ngasorake drajate dewe “Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri”,
Akeh bocah kowar “Banyak anak lahir diluar nikah”,
Rondo murah regane “Janda murah harganya”,
Rondo ajine mung sak sen loro “Janda nilainya hanya satu sen untuk dua”,
Prawan rong sen loro “Perawan nilainya dua sen untuk dua”,
Dudo pincang payu sangang wong “Duda pincang berharga 9 orang”.

Itulah petikan dalam serat Kalatidha dari Jayabaya untuk negeri bahkan seluruh dunia yang jika kita pikir-pikir memang terjadi, setelah membaca petikan tadi seharusnya bisa menjadi pencerahan hati kita menghadapi dunia yang penuh tipu daya ini.

Dalam Al-Qur’an dan Hadist juga banyak menerangkan tentang tanda akhir zaman, yang mirip dengan petikan serat di atas.

Dan semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang diridloi-Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.