Ki Ageng Mangir

Posted on Januari 9, 2007. Filed under: ki ageng mangir, legenda |

Saat Panembahan Senopati bertahta di Mataram, banyak pemimpin daerah yang membangkang, menolak mengakui hegemoni Mataram. Salah satunya adalah Ki Ageng Mangir yang memimpin tanah Perdikan Mangir di tepi Sungai Progo (sekarang masuk dusun mangir ds. sendangsari kecamatan pajangan, Bantul). Ini seakan menjadi bisul bagi Panembahan Senopati yang telah bertekad menguasai sepenuhnya Mataram.

Maka Panembahan Senopati bermaksud melakukan duel untuk menentukan siapakah yg paling berhak berkuasa di Mataram. Penyelesaian khas laki-laki. Panembahan Senopati yang seorang raja ‘tulen’, naik tahta bukan karena hadiah tapi karena memang punya daya linuwih, tak ragu untuk bertarung dengan Ki Ageng Mangir yang juga digdaya. Tombak Kiai Baru Klinthing dan pengaruh Ki Ageng Mangir yang kuat di Mangiran begitu membuat hasrat bertarung Sang Raja menggebu-gebu.

Tapi Sang Patih, Ki Juru Martani berpendapat lain. Ki Ageng Mangir dianggapnya bukan level Panembahan Senopati. Kalaupun Panembahan Senopati menang, itu hal yang lumrah saja. Bukankah Panembahan Senopati memang seorang raja? Lalu bagaimana kalau sampai kalah? Taruhannya terlalu besar. Menang ora kondhang, kalah dadi wirang. Ki Juru Martani menawarkan jalan yg lebih halus, sedikit berliku, tapi licik.

Maka digelarlah suatu operasi intelijen, Sekar Pembayun-putri Sang Raja-menyamar menjadi penari keliling/ledhek. Misi operasi ini adalah “temukan rahasia kesaktian Ki Ageng Mangir dan musnahkan!”

Dan sebagaimana yang kemudian tercatat dalam cerita-cerita, terpesonalah Ki Ageng Mangir pada Sekar Pembayun. Merekapun menikah. Dan betapa terpukulnya ketika Ki Ageng Mangir mendengar pengakuan Sekar Pembayun, bahwa dia tak lain adalah anak Panembahan Senopati, musuh bebuyutannya. Apa boleh buat, janji perkawinan telah diucapkan, pertalian darah telah ditorehkan. Kini dia menjadi menantu dari musuhnya.

Atas bujukan Pembayun, Ki Ageng Mangir menghadap Panembahan Senopati. Sepanjang perjalanan, kebimbangan menggelayut di benak Ki Ageng Mangir. Panembahan Senopati telah menjadi mertuanya. Tetapi dirinya selama ini mengambil posisi berseberangan dengan raja Mataram itu. Apakah dia akan diterima sebagai menantu ataukah musuh? Seakan Ki Ageng Mangir telah mencium takdir yang menantinya di singgasana Sang Raja.

Maka bertemulah dua seteru yg telah terikat pertalian darah ini. Sebagai menantu yang baik, Ki Ageng Mangir telah melepas seluruh senjata yang dibawanya. Ternyata benar kata Pembayun, Sang Raja menerima menantunya dengan ramah dan kasih sayang. Maka dia mengambil posisi bersimpuh dan bersiap menyembah kepada Panembahan Senopati sebagai tanda penghormatan. Hening. Helaan nafas seperti tertahan dalam kilatan waktu yang tiba-tiba melambat seperti berbulan-bulan lamanya.

Ketika kepala Ki Ageng Mangir hampir menyentuh lantai, secara tiba-tiba Panembahan Senopati dengan gerakan tak terduga meraih dan membenturkannya ke Watu Gilang yang menjadi singgasananya. Sebuah dendam politik dituntaskan. Tewaslah Ki Ageng Mangir di tangan sang mertua seiring lengking tangis Ratu Pembayun.

Apakah Pembayun benar-benar mencintai Ki Ageng Mangir?
Apakah yang ada dalam pikiran Panembahan Senopati saat melihat kepala Ki Ageng Mangir begitu dekat dengan singgasananya?

Sejarah tak pernah mencatat dengan baik hal-hal yang ada pada level perasaan seperti itu. Tapi cerita tentang kekuasaan memang sulit dihindarkan dari pengorbanan.

***

Makam Ki Ageng Mangir sendiri dibuat separuh di dalam pagar kompleks makam dan separuhnya lagi di luar pagar. Sungguh suatu perlambang ambigu: separuh musuh separuh keluarga. Tapi juga mencerminkan sisi kelam jiwa manusia yang memiliki dendam begitu besar, bahkan setelah musuhnya mati.

(diramu dari berbagai sumber, dengan sedikit polesan)
Pramudya Ananta Toer membuat novel berdasarkan kisah Ki Ageng Mangir.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

13 Tanggapan to “Ki Ageng Mangir”

RSS Feed for Bumi Mataram Comments RSS Feed

kata kerabat-kerabat orang tua saya, saya adalah keturunan kedelapan dari Ki Ageng Mangir. kalo ngga salah nama anak beliau bernama Maduseno atau sy biasanya manggil dengan nama Mbah Agung. sering sy cari sumber cerita, namun sering pula sy malah jadi bingung…
makasih udah ada tulisan ini.. yang bikin bingung sy sedikit berkurang…
mudah-mudahan sy bisa dapat sumber lain yg akan semakin mengurangi bingungnya sy…
kalo ada yg tau tentang kronologis keturunan Ki Ageng Mangir, sy minta diberitahu… thx

ini saya juga bukan dari riset total maz.. kebanyakan copas sana sini dan cerita dr para sesepuh2

menurut riwaayat keturunan ki ageng mangir melarikan diri ke barat sekitar daerah banyumas dan ada yg ketimur di daerah madiun…. namun kebanyakan adalah keturunan dr ki ageng mangir II [bukan menantu senopati]
di daerah candi karanganyar kebumen msh ada yg katanya keturunan ki mangir cm perlu di teliti silsilah dr ki mangir yg ke berapa

menurut kabar putera ki ageng mangir wonoboyo dgn puteri pembayun yaitu MADUSENA tidak di bunuh oleh ki ageng tingkil tapi di bawa lari ke daerah timur sekitar wilayah madiun dan saya pernah reportase dgn beliau2 yang katanya masih keturunan ki ageng mangir lll dari MADUSENA

Ijin copas pesan prabu siliwangi mas elangq

smoga sampai doa yg sya krm kpd mbah mangir .. amien

mohon pencerahan, ada yang punya informasi tentang R.M Kartasuta (Wiragati III)?
terima kasih


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...