Situs Batugilang di Kotagede

Posted on Januari 9, 2011. Filed under: babad, umum |

Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya.

Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Ketika Ki Ageng Pemanahan berhasil mengalahkan Arya Penangsang pada tahun 1558, Sultan Hadiwijaya menghadiahi sebuah tanah di daerah Hutan Mentaok, yang kini dikenal dengan kawasan Kotagede.

Ki Ageng Pemanahan membangun sebuah desa di hutan Mentaok yang kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan ini kemudian semakin membesar dan menyaingi Kerajaan Pajang.

Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Danang Sutawijaya kemudian memberontak kepada Kerajaan Pajang dan mengangkat dirinya sebagai raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.

Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede pun makin membesar dan menguasai daerah kekuasaan Kerajaan Pajang setelah jatuh akibat perang saudara.

Nah, Situs Watu Gilang menjadi saksi atas kejayaan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.

Situs ini bisa ditemukan dengan menyusuri jalan dari Pasar Gede ke arah selatan kurang lebih 500 meter, melewati Kompleks Makam dan Masjid Agung Kotagede hingga sampai pada sebuah bangunan yang berdiri di tengah jalan.

Bangunan ini juga dikelilingi pohon-pohon beringin dan sebuah pohon Mentaok rindang yang memberikan hawa sejuk. Di dalam bangunan inilah peninggalan bersejarah itu disimpan.

Ndak jauh dari bangunan ini, ada kompleks makam keluarga Hamengkubuwana VII, VIII, dan IX. Kompleks makam ini bernama Hasta Renggo.

Hasta berarti “delapan” sedangkan Renggo berarti “bangunan”. Artinya kompleks makam ini dibangun pada masa Hamengkubuwana VIII.

Kompleks situs Watu Gilang menyimpan peninggalan Kerajaan Mataram antara lain Watu Gilang, Watu Gatheng, dan Watu Genthong.

 

Watu Gilang dipercaya merupakan batu singgasana Panembahan Senopati.

Watu Gilang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter berwarna hitam.

Di atasnya terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam beberapa bahasa yang sudah ndak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis.

Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib. Istilah kerennya sih, curhat.

Konon di batu ini pula, Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui Lintang Johar.

Batu andesit hitam ini dibawa dari Hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.

Di atas singgasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.

Pada sisi sebelah timur batu ini, terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.

Ki Ageng Mangir sendiri merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik “Apus Krama” atas usulan dari Ki Juru Mertani.

Taktik “Apus Krama” ini adalah taktik dengan cara mengirimkan Puteri Pembayun menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.

Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, mau ndak mau dia harus menghadap ke mertuanya yang ndak lain adalah Panembahan Senopati.

Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan membenturkan kepalanya ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.

Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri.

Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.

 

Peninggalan lainnya adalah Watu Gatheng. Ingat, bukan Watu Ganteng, batu yang bisa bikin ganteng bila dilemparkan ke muka orang jelek.

Batu Gatheng adalah batu yang digunakan oleh Raden Ronggo bermain lempar batu sembunyi tangan (bermain Gatheng).

Watu Gatheng sendiri merupakan hal yang cukup menakjubkan. Bayangkan saja, bola batu karsit berwarna kuning yang berat tersebut digunakan sebagai permainan Gatheng.

Permainan Gatheng sendiri dilakukan seperti kita bermain bola Bekel. Batu dilempar ke atas kemudian ditangkap kembali.

Ada 3 buah bola, sebuah berukuran agak kecil berdiameter 15 cm dan dua buah berukuran besar berdiameter 27 cm dan 31 cm.

Karena kesaktiannya inilah Raden Ronggo mampu menjadikan bola-bola batu ini sebagai mainan.

Bahkan ada mitos yang beredar, bila kita berhasil mengangkat batu ini maka keinginan kita akan terkabul.

Saya berhasil mengangkat batu ini meski cuma yang kecil dan berharap bisa jadi bintang sinetron mendapatkan kerjaan yang enak dengan gaji besar!

Ada versi cerita lain yang mengatakan bahwa Watu Gatheng adalah peluru meriam berukuran besar yang bernama Pancawura yang berada di Pagelaran Kraton Surakarta.

Konon meriam Pancawura ini dulu hendak dibawa ke Batavia untuk menyerang VOC ketika Mataram dalam pemerintahan Sultan Agung, namun karena prasarana yang kurang akhirnya urung.

 

Benda peninggalan terakhir yang ada di situs ini adalah Watu Genthong.

Watu Genthong terbuat dari batu andesit berbentuk seperti gentong padasan dengan diameter 57 cm yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring, penasehat Panembahan Senopati, untuk mengambil air wudlu.

Konon Watu Genthong ini ndak perlu diisi air. Dengan menggunakan kesaktiannya, Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring hanya memegang dinding batu dan air pun akan muncul dengan sendirinya.

Ki Ageng Giring merupakan sahabat dari Ki Ageng Pemanahan. Awalnya yang mendapat wangsit untuk menjadi raja adalah Ki Ageng Giring namun ternyata pada perjalanannya justru Ki Ageng Pemanahan yang naik tahta menjadi raja.

Ki Ageng Giring akhirnya bisa menjadi raja pada keturunannya yang ketujuh. Keturunan ketujuh Ki Ageng Giring adalah Pangeran Puger yang kemudian menjadi Pakubuwana I.

Kompleks situs ini berada di kampung Kedathon yang dipercaya merupakan pusat dari kerajaan Mataram Islam. Sehingga bisa dibilang kalo situs ini adalah pusat dari Kerajaan Mataram Islam.

Awalnya situs ini berada pada ruang terbuka, namun untuk melindungi situs ini dibangunlah suatu bangunan yang melindungi situs ini pada tahun 1934 atas perintah Hamengkubuwana VIII.

Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan dari Kotagede ke Kerta, sekitar 4 km sebelah selatan Kotagede.

Kemudian pada masa Amangkurat I, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan ke Pleret, ndak jauh dari ibukota lama di Kerta.

Daerah Kerta dan Pleret ini kini dikenal dengan daerah Pleret, Kabupaten Bantul, DIY.

Setelah pemberontakan Trunojoyo tahun 1674, Amangkurat II memindahkan kerajaan ke daerah Kartasura sehingga dikenal dengan Kerajaan Kartasura.

Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, Kraton Katasura dipindahkan ke desa Sala dan terbentuklah Kraton Surakarta atas bantuan VOC.

VOC mengetahui kekuatan Mataram dapat mengancam keberadaannya hingga melalui politik devide et impera, VOC memecah Mataram melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Berdasarkan Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 yaitu Kraton Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwana III dan Kraton Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwana I.

Kedua kerajaan ini dirasa masih cukup kuat, sehingga VOC kembali memecah kedua kerajaan melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang hasilnya Kraton Surakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Mangkunegara sebagai adipati dan Kraton Yogyakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Pakualam sebagai adipati.

Menarik bukan?

Hanya dengan mengunjungi satu situs cagar budaya saja kita bisa mengetahui sedikit sejarah yang sangat panjang.

Penelusuran sejarah kami ndak berhenti sampai di sini. Kami pun meneruskan perjalanan menyusuri tempat-tempat bersejarah lainnya di seputar Kotagede.

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: