Babad Tanah Plered

Posted on Januari 13, 2011. Filed under: babad, legenda, umum |

maz cakti

Pleret adalah suatu kota Pusat Pemerintahan Mataram di bawah kekuasaan Raja Mataram Islam bergelar Kangjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung atau Amangkurat I yang dimakamkan di Tegalarum ,ketika perang pemberontakan Trunojoyo.Beliau adalah Putera Sultan Agung yang ke 10 dari isteri Padmi (Permaisuri) Kangjeng Ratu Kencono berasal dari Kadipaten Batang ( Tegal ) atau Kangjeng Ratu Wetan Putera Raden Ronggo Wongsoadibroto ( Adiprojo ) ke 11,putera menantu Mandurorejo ke I.

Beliau naik tahta pada tahun : 1645 s/d 1677 M sehingga adanya pemberontakan Panembahan Maduretno alias Trunojoyo, yang sebenarnya peperangan ini merupakan perebutan kekuasaa antara Ayahanda dan Putera Mahkota,dengan memperalat Trunojoyo dari Madura. Sampai sekarang tempat tersebut masih sebagai Pusat Pemerintahan tetapi hanya tingkat Kecamatan (Kapanewon=Panewu)agak menggeser 1 km ke Utara termasuk Kalurahan ( Penatus ) Pleret, Kabupaten Bantul,Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketika Pemerintahan Pusat Mataram masih dijabat Sultan Agung Hanyokrokusumo Segala sesuatunya dalam bidang kenegaraan maupun Pemerintahan sangat berkembang pesat , begitu pula dalam bidang kemiliteran sangat kuat dan mempunyai daya tempur yang tinggi. Pernah membuat Lumbung padi bersama-sama dengan orang-orang Sunda di Kerawang Jawa Barat, dengan maksud untuk persediaan supply prajurit sewaktu menyerang ke Batavia.

Untuk melatih prajurit lautan lalu membuat kolam telaga yang lebar dan luas disebut : SEGARA YASA, air diambil dari Kali Gajah Wong yang bertempur dengan Kali Opak didesa Wonokromo, tempat itu sekarang dihuni oleh penduduk sekitarnya lalu dinamakan Desa Segoroyoso.

Pada tahun 1628 M.Kangjeng Sultan Agung menyerang ke Batavia ( Jayakarta ) tetapi mendapat kekalahan yang besar , banyak prajurit yang kurang makan , mati kelaparan , kekurangan alat persenajataan, kekurangan meriam dan senjata api, tombak dan kapal, karena lumbung padi yang berada di Krawang dibakar oleh Belanda VOC. Benteng Kompeni VOC selain dibuat batubata juga dibagian luar banyak terdapat pohon -pohon bambu ori , agar Kompeni VOC dapat melihat Prajurit Mataram dari kejauhan Maka pohon-pohon bamboo-ori tersebut ditembaki nmemakai peluru uang-logam, karuan saja penduduk lalu merombak pohon-pohon bamboo tersebut untuk mengambil uang ,

sebaliknya Prajurit Mataram merasa marah lalu senjatanya diisi dengan tinja (kotoran manusia ) sehingga penduduk disana menyebut ambetai, lama-kelamaan beralih :Betawi

Sultan Agung merasa marah mendengar para prajuritnya selalu menderita kekalahan dan Jayakarta ( Sunda Kelapa ) telah diduduki Kompeni VOC,untuk hal ini Sultan Agung merasa terpukul keras,hingga menderita sakit ,akhirnya wafat dalam usia 55 tahun 1645. Beliau digantikan oleh Putera Mahkota bergelar : PRABU SUSUHUNAN AMANGKURAT AGUNG atau Susuhunan Amangkurat I seda Tegalarum , bertahta tahun 1645 s/d 1677 M.

Kemudian Keraton dipindahkan mleret ke timur , lalu disebut Kedhaton Pleret. Bekas Keraton Kerta hanya dipergunakan sebagai Pesanggrahan Keraton lama. Di Keraton baru , Kangjeng Sunan Mangkurat Agung masih juga aktif bersembahyang ke Masjid Agung Ngeksigondo ,dengan dikawal oleh para punggawa-punggawa Kraton yang begitu banyak ginarebeg ( dikawal ) para prajurit seakan-akan Kanjeng Susuhunan Amangkurat naik burung Garudha dari Keraton menuju ke Masjid

,hanya sekejab mata saja. Setelah bertahta agak lama, beliau hanya mementingkan kenikmatan keduniawian memelihara selir banyak, bahkan menyimpan gadis kecil yang dititipkan kepada Tumeng

gung Wirorejo agar nantinya setelah m enginjak dewasa akan dijadikan isteri muda. Gadis ini bernama :Roro Hoyi, gadis pingitan dari Surabaya yang dibawa Pangeran Pekik Adipati Surabaya (masih Paman Raja ,suami Ratu Mas Wandansari,adik Sultan Agung ).

Pada suatu hari Pangeran Adipati Anom (Pangeran Tejaningrat ) berkunjung kerumah Tumenggung Wirorejo bermaksud hanya main-main saja. dengan tidak terduga bahwa di Katemanggungan ada seorang gadis yang sedang membatik kain. Sang Pangeran merasa terpikat hatinya. demi melihat gadis cantik molek yang tumbuh di sebuah Tamansari Katemanggungan Wirorejan. Begitu pula Rara Hoyi setelah bertemu pandangan matanya , deras berdebar–debar jantungnya dan segera lari masuk ke Pendapa Katemanggungan sambil duduk termangu-mangu. Sang Pangeran manunggu kehadiran si Cantik Jelita,namun tidak mungkin keluar karena malu. Ki Tumenggung Wirorejo keluar menghadap Sang Pangeran dengan sembahnya, sambil unjuk atur : “ Pangeran .. anak gadis yang Paduka cari itu sebenarnya puteri Piningit dari Surabaya, yang akan menjadi isteri Ayahanda Raja Sunan Prabu Mangkurat Agung ..” Setelah Sang Pangeran mendengar keterangan dari Ki Tumenggung Wirorejo , segera minta pamit kembali ke Keraton . Di Kesatriyan Sang Pangeran tidak dapat tidur, dan selalu terbayang-bayang wajah gadis itu, selalu menggoda dipelupuk matanya, akhirnya Sang Pangeran jatuh sakit.

Hal ini terdengar oleh Kangjeng Ratu Wandansari, Isteri Pangeran Pekik , bahwa Sang Pangeran jatuh sakit wuyung, kasmaran dengan Roro Hoyi sengkeran Sang Prabu Susuhunan Amnangkurat I.

Atas persetujuan Pangeran Pekik, Rara Hoyi dibawa masuk ke Keraton dan ditempatkan di Kesatriyan, untuk mengobati penyakit Sang Pangeran. Pangeran Pekiklah yang bertanggung jawab apabila Sang Ayah marah, menurut pendapatnya mestinya sang Ayah mau mengalah dengan anaknya. “ Ora ana macan arep tegel mangan gogore … “ Dugaan ini ternyata meleset, setelah Sang Prabu mendengar Rara Hoyi jatuh cinta kepada Sang Pangeran,dan malah mendapat dukungan dari Pangeran Pekik,beliau geram dan murka. Maka Pangeran Pekik dan Kangjeng Ratu Wandansari serta Pangeran Tejaningrat begitu pula Tumenggung Wirorejo dan Nyi Tumenggung dipanggil menghadap

Susuhunan Prabu Amangkurat I. Dalam Pasewakan ( Rapat ) yang luar biasa Sang Raja marah – marah dan menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Pekik dan Tumenggung Wirorejo berdua dan jenazahnya dimakamkan di Makam Banyusumurup. Selanjutnya Pangeran Tejaningrat harus membunuh Rara Hoyi dari tangannya sendiri.. Pangeran Tejaningrat dengan membawa keris terhunus meninggalkan Paseban menuju ke Kesatriyan, sesampainya di Kesatriyan tidak tega akan menusuk Rara Hoyi. Rara Hoyi tanggap bahwa yang menyebabkan onar didalam Keraton Mataram adalah dirinya , maka setelah melihat Sang Pangeran membawa keris terhunus , ditubruklah keris itu sehingga tembus sampai kepunggungnya,Rara Hoyi meninggal seketika itu juga.

Geram Sang Prabu Susuhunan Amangkurat belum mereda, dan memerintahkan agar Kesatriyan dibakar habis-habisan, sedang Pangeran Tejaningrat diasingkan(dibuang) ke Hutan Larangan ( tutupan ). Di Hutan Tutupan Pangeran Tejaningrat kedatangan Pangeran Puruboyo Bantheng Wulung , mengajak Trunojoyo , anak kemenakan Adipati Cakraningrat dari Sampang Madura. Maksud kedatangan mereka mengajak perundingan, agar Sang Pangeran mau merebut kekuasaan Sang Ayah Prabu Amangkurat I, karena beliau bertindak sewenang-wenang terhadap anaknya saerta para kawulanya.

Pangeran Tejaningrat menerima bujukan ini , dengan janji : Apabila Trunojoyo dapat menundukkan Prabu Amangkurat I ,akan diangkat menjadi Patih dikelak kemudian, setelah Pangeran Tejaningrat atau Pangeran Adipati Anom naik tahta kerajaan. Dengan kekuatan Prajurit yang luar biasa Trunojoyo menyerbu Kedhaton Plered, dibantu oleh orang-orang Makasar, Kraeng Galengsong, Kraeng Naba dan lain-lainnya , memporak-porandakan keadaan didalam Keraton .

Sang Pangeran dengan secara diam-diam menelusup ke Keraton, mengajak Sang Ayah Prabu Susuhunan Amangkurat Agung agar mau meninggalkan Keraton mengungsi ke barat untuk menyelamatkan diri. Trunojoyo dapat menduduki Keraton Plered dan mengangkat dirinya sebagai PANEMBAHAN MADURETNO dan semua isi Keraton disita dan dibagi-bagikan ke pada para prajuritnya , isteri Susuhunan , Kanjeng Ratu Kencono ( Kangjeng Ratu Kleting Kuning ) diboyong ke Kediri. Ditempat pengungsian Ajibarang Jawa Barat, Susuhunan Amangkurat I memerintahkan kepada anaknya agar mau merebut kembali Keraton Pleret , akan tetapi Sang Pangeran tidak sanggup melawan Trunojoyo, didalam batinnya beliau telah berjanji, bila Trunojoyo telah dapat menduduki Keraton tentu akan menyerahkan kedudukannya itu kepada Sang Pangeran,tetapi Trunojoyo melanggar janji dalam peribahasa Jawa disebut : Ngemut Gula krasa legi , eman yen nganti dilepeh ..Setelah Sri Susuhunan Amangkurat I memerintahkan , anaknya tidak mau kemudian mengeluarkan Prasapta ( Ipat-ipat ) bahwa : Semua keturunan Raja dilarang mengadakan Ziarah ke leluhurnya. Dibantu oleh Adipati Mertalaya di Tegal , Prajurit Mataram mengejar Prajurit Trunojoyo ke Kediri , namun kemudian Susuhunan Prabu Amangkurat I sesampainya di desa Pasiraman wafat dan dimakamkan di Tegalarum , Tegal , Jawa Tengah , sedang Sang Pangeran Adipati Anom memakai srempang Orange Nassau dari Belanda , diangkat menjadi Admiral mendapat sebutan : SUNAN AMANGKURAT AMRAL II .

Keadaan Kraton Pleret rusak dan tidak pantas lagi ditempati seorang Raja Muda , maka Keraton dipindahkan ke Kartasura , Kedhaton Pleret sekarang tinggal Patilasan berupa : Umpak , lantai dan sumur gumuling.

CERITA DARI YG LAIN:

Surakarta, Desember 1787. Pamflet gelap menempel di tempat penyimpanan gamelan milik keraton. Isinya, sebuah gugatan untuk Pakubuwono III yang dituduh menyimpang. Raja Surakarta itu memang akrab dengan kolonial Belanda yang memeras tenaga rakyat, habis-habisan. “Mestikah orang-orang Eropa (dianggap) lebih kuat daripada Allah?” Surakarta sontak geger mencari-cari si pemasang pamflet. Tak tersedia petunjuk kecuali sebuah nama yang menyebut dirinya sebagai Susuhunan Ayunjaya Adimurti Senapati Ingulaga.
Pada waktu itu, tentu belum ada Jamaah Islam, Al Qaeda, Hamas, ataupun Jihad Islam. Tapi, kecurigaan aparatur asal Eropa sudah sejak lama dialamatkan pada Islam. Walhasil, seorang kyai ditangkap. Namanya, Kyai Alim Demak. Kyai yang buta huruf latin itu diseret jadi terdakwa. Sayang, belum ada presumption of innocence masa itu. Ia dihukum sebelum sempat diadili. Kyai Alim Demak disiksa hingga tewas. Kulitnya dikelupas selapis demi selapis. Tepat di bawah parasnya, pamflet yang menggemparkan itu, dibakar.

Raja Mataram putera Sultan Agung, Amangkurat I, murka sejadi-jadinya. Ada pembisik mengabarkan, ribuan ulama di wilayah kekuasaannya bersimpati pada Pangeran Alit yang tengah memberontak. Akarnya? Raja Mataram itu kerap mengorbankan rakyat demi kepentingan Belanda. Maka, bila Babad Tanah Jawi bisa dipercaya, 6000 orang–terdiri atas para ulama dan keluarganya–yang menjadi tersangka, dikumpulkan di alun-alun. Tanpa beban, dalam tempo kurang dari setengah jam semuanya tersungkur menjadi mayat tanpa kepala. Amangkurat I memerintahkan penyembelihan massal.

Pemberontakan, tokh, terus berlanjut. Kali itu di bawah pimpinan Pangeran Trunojoyo, asal Madura. Amangkurat I akhirnya tumbang, dan anaknya, Amangkurat II, diserahi Trunojoyo untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya. Tapi, tak lama setelahnya, ketika para bupati diundang dan dikumpulkan di balairung kerajaan. Di hadapan mereka disuguhkan adegan mengerikan. Amangkurat II menikam Pangeran Trunojoyo, lantas membelah perut dan mengambil hatinya. Setelah dicincang, ia bagi-bagi pada para bupati untuk ditelan mentah-mentah. Menguji loyalitas.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Babad Tanah Plered”

RSS Feed for Bumi Mataram Comments RSS Feed

makasih ya tth informasinya😀

iya mbak lili, sama2…. ;D

mantab. ijin ngangsu kawruh disini


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: