Mengasah Rasa Versi Suryomataraman

Posted on Januari 17, 2011. Filed under: umum |

Pendidikan ukuran ke 4 termuat dalam sebuah semboyan, Siapa mencari enak tanpa mengenakkan tetangganya, sama dengan membuat tali untuk menjerat lehernya sendiri. Jadi rasa enak itu hanya dapat diperoleh dengan jalan mengenakkan orang lain, dan dari pada itu tidak ada. Rasa enak yang diperoleh dengan tidak mengenakkan orang lain, tercampur rasa tidak enak yang lebih berat bobotnya, maka rasa itu tidaklah murni.
Misalnya, seorang menikmati makanan, karena makannya serba enak tidak seperti biasanya, maka akan timbul rasa tidak enak. Wahai, bagaimana agar dapat makan makanan yang serba enak seperti ini lagi. Bila keinginannya terlaksana, tentu muncul rasa tidak enak lagi. Wah, bagaimana supaya setiap hari dapat makan serba enak seperti ini, demikian seterusnya.

Perbuatan mengenakkan orang lain sering bersifat tidak mengenakkan orang lain. Misalnya seorang suami membelikan pakaian untuk isterinya dengan maksud supaya isterinya tidak cerewet. Perbuatan itu sebenarnya bukan mengenakkan isterinya, namun menyuap isterinya dengan pakaian.

Dengan demikian, rasa enak itu hanya dapat diperoleh dengan jalan mengenakkan orang lain. Karena dalam hubungan, orang merasa enak atau tidak enak, bersama-sama dengan orang yang dihubungi. Jadi, orang yang dihubungi tidak terpisah sebagai kamu.

Semboyan enak hanyalah mengenakkan orang lain didasarkan atas anggapan bahwa
orang orang lain bukanlah kamu.Sikap jiwa yang menganggap orang lain bukan kamu, mewajarkan tindakannya mengenakkan orang lain, dan memungkinkan melihat rasa enak atau tidak enak orang lain.


Perkembangan Ukuran Ke 4

a. Syarat-syarat perkembangannya.

Syarat perkembangan ukuran ke 4,yaitu pengertian bahwa keenakkan hubungan dengan orang lain hanyalah dengan menghayati rasa orang lain. Seperti halnya keenakkan hubungan dengan barang-barang hanyalah dengan mengerti barang-barang itu. Pengertian tersebut menimbulkan ikhtiar agar dapat menghayati rasa orang lain. Ikhtiar yang timbul dari pengertian itu membuat orang tidak henti-hentinya berusaha sehingga mencapai tujuan itu.

b. Rintangan perkembangan Ukuran Ke 4.

Rintangan yang menghalangi perkembangan ukuran ke 4 yaitu rasa luka.
Pengalaman tidak enak yang lampau, pedih dihati menjadi luka hati. Pada waktu berhubungan dengan orang lain, luka itu merupakan rasa balas dendam. Maka, luka itu menghalangi orang merasakan rasa orang lain, sebagai kacamata berwarna, menghalangi untuk mengamati orang lain. Jadi, seorang laki-laki pernah bercerai dalam perkawinan, ia menanggapi wanita lain sama jahatnya, seperti isteri yang diceraikannya.

c. Latihan.

Bila orang mengerti hambatan yang merintangi perkembangan ukuran ke 4, maka orang perlu mempelajari dan melatih dirinya agar ukuran ke-4nya berkembang secara wajar.
Latihan ini dapat dijalankan dalam pekerjaan. Misalnya, berdagang, ketika laris orang tidak merasa susah, namun bila tidak laku, lalu merasa susah.

Bila kesusahan itu diteliti dengan landasan rasa merasa salah, dapat ditemukan kesalahannya sendiri. Yaitu, rasa suka untung dan benci rugi, yang merintangi rasa si pembeli. Bila suka dan bencinya sendiri diketahui, orang akan mengerti rasa si pembeli yaitu butuh harga murah dan barang baik. Kemajuan orang itu mengerti bahwa jika ia tidak dapat mengadakan harga murah dan barang baik, maka ia tidak sesuai dengan pekerjaan itu.

Latihan itu juga dapat dijalankan di lingkungan keluarga. Melihat anaknya tidak naik kelas dalam sekolahnya. Bila ia memakai kacamata untung rugi, ia tidak dapat menghayati rasa anaknya, kemudian memarahinya. Namun bila rasa untuk rugi yang ada pada dirinya diketahui, ia akan merasa salah dan menghayati rasa anaknya. Ternyata rasa anak sekolah yang tidak naik kelas itu tidak enak, seakan-akan putus asa dan ingin bunuh diri. Menghayati rasa anaknya itu, maka tentu saja orang segera berusaha menghilangkan rasa putus asa dan tidak memarahi.

Bila latihan tersebut dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, ukuran ke 4 akan berkembang semakin subur, sehingga menimbulkan perubahan sifat jiwa manusia.Dengan demikian dapat disimpulkan, orang dapat menghayati rasa orang lain tidak memikirkan diri sendiri secara mutlak, karena ia bersikap bersatu dengan orang lain. Jadi pengetahuan diri sendiri merupakan syarat dalam pergaulan antar manusia.

Konsep Ukuran Ke 4 dan Pembangunan Nasional.

Hakikat pembangunan nasional yaitu Pembangunan Manusia Indonesia Seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD-45. Maka dalam pembangunan perlu adanya suatu gambaran tentang manusia yang ideal.

Dalam hal ini, konsep Ki Ageng Suryomentaram tentang ukuran ke 4 atau manusia
tanpa ciri dapat digunakan sebagai gambaran tentang manusia yang ideal, yaitu dalam ungkapan semboyan yang punya nilai etik dan moral tinggi, yaitu Tidak ada enak kecuali mengenakkan orang lain?. Manusia tanpa ciri selalu merasa sama
dengan orang lain dan dalam pergaulan selalu merasa damai dengan orang lain.

Nilai etik dan moral ini diharapkan dapat dipergunakan dalam upaya menanggulangi
side effect dari pembangunan, yaitu egoisme dan melemahnya solidaritas sosial.
Manusia tanpa ciri, manusia yang sudah tidak punya ciri-ciri lagi. Ciri-ciri itu pada hakikatnya adalah semua perbedaan. Jadi, ciri-ciri itu merupakan segala sesuatu yang menjadikan manusia berbeda dengan manusia lain.

Manusia tanpa ciri menganggap orang lain bukan kamu, artinya dalam hal rasa orang lain itu sama dengan dirinya. Karena merasa sama dengan orang lain, ia merasa damai dengan orang lain sehingga ia merasa adil. Karena merasa aman dengan orang lain segala perbuatannya seenaknya, secukupnya, sebutuhnya, semestinya, sebenarnya, sehingga ia selalu jujur, tidak serakah, tidak gila hormat dan merasa makmur.

Bila ukuran ke 4 atau manusia tanpa ciri ini berkembang dalam tiap diri para
aparat pembangunan bangsa, side effect dari pembangunan yang berupa menonjolnya egoisme den melemahnya solidaritas sosial akan berkurang, sehingga jalan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD-45 yang dicita-citakan seluruh bangsa lebih lancar.

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: