7 satrio piningit

Posted on Juli 11, 2011. Filed under: spiritual, umum |

Selain masing-masing satrio itu menjadi ciri-ciri dari masing-masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata tujuh satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu di dalam diri seorang pandhita yang telah kita tahu adalah Putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap di atas. Berikut ini adalah sifat-sifat -Satrio Piningit- sejati hasil bedah hakekat terhadap apa yang telah ditulis oleh R.Ng. Ronggowarsito :

1.             Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro

melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimi-liki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma-rifat sebenar-benar ma-rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu-.

2.             Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar

melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.

3.             Satrio Jinumput Sumelo Atur

melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.

4.             Satrio Lelono Topo Ngrame

melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.

5.             Satrio Hamong Tuwuh

melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

6.             Satrio Boyong Pambukaning Gapuro

melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Caw-n- = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.

7.             Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu

melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia (waliyullah).

Serat Kalatidha Ronggowarsito

Guna memperlengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter -Satrio Piningit- yang telah diurai di atas, ada baik-nya kita cermati pula Serat Kalatidha karya Ronggowarsito yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258. Kutipan berikut ini menggambarkan situasi jaman yang terjadi dan akhirnya muncul sang Satrio yang dinanti :

Pupuh 257 (tembang 28 s/d 44) :

Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.

–              Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.

–              Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.

–              Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.

–              Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.

–              Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.

Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.

–              Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.

–              Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.

–              Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak.

–              Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.

–              Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.

Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.

–              Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda-tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.

Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.

–              Berupaya tanpa pamrih.

Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.

–              Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.

Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

–              Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.

–              Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.

–              Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.

Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.

Pupuh 258 (tembang 1 s/d 7) :

Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

–              Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.

Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.

–              Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.

Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.

–              Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.

–              Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.

Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.

–              Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.

Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.

–              Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.

–              Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil -olah batin- ataupun -perjalanan spiritual- beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat (sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan). Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada.

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “7 satrio piningit”

RSS Feed for Bumi Mataram Comments RSS Feed

Kutukan Tuhan kolosal yang akan menimpa 1 juta orang di atas tanah Jawa setelah gempa 9.8 SR di kepulauan Mentawai yang diiringi tsunami pantai barat Sumatra, Selat Sunda dan sekitarnya, pantai utara Banten dan Jakarta yang diperdahsyat oleh terjadinya juga gempa dan tsunami di sepanjang panati selatan Jawa dari ujung barat sampai pantai Ngliyep Jawa Timur akan menandai mulai berkiprahnya Satrio Piningit yaitu Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu yang juga Khalifah al Mahdi atau 666. Umat islam tidak perlu bingung, sebab Al Mahdi itu terdiri dari 2 orang yang berbeda. Al Mahdi muncul saat dunia sedang dilanda perselisihan2 dan kegoncangan2. Imam Mahdi muncul dari kawasan yang paling banyak konflik di muka bumi saat ini Timur Tengah yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW anak cucu dari Fatimah mancung hidungnya, lebar dahinya namanya Muhammad bin Abdullah. Sedang Khalifah al Mahdi muncul dari tanah Jawa di Nusantara yang sekarang merupalan daerah yang sering dilanda gempa bumi. Ciri-cirinya bertebaran dalam Ramalan Jayabaya, Sabdo Palon, Ronggowarsito dan Uga Wangsit Siliwangi. Khalifah al Mahdilah yang akan mendirikan Daulah Khilafah Islam di atas tanah Jawa dengan pertolongan Allah SWT. Khalifah al Mahdi akan menjadi Ratu Adil tanah Jawa dan dunia bersama Imam Mahdi dan Nabi Isa as.

Pertunjukan kekuasaan Allah SWT telah dilaksanakan di Washingto DC, Chicago, Singapura & Israel. Semua itu adalah bagian dari proses berdirinya Daulah Khilafah Islam di atas tanah Jawa dgn ijin & pertolongan Allah SWT.

Daulah Khilafah
Islam ini nanti akan dipimpin oleh Khalifah al Mahdi = 666 = Satrio Piningit = Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu = Ratu Adil = The Man from The East.

Mei 2012: Sukhoi Superjet SSJ 100 jatuh di Gn Salak
Juni 2012: Fokker F27 TNI AU jatuh di sekitar Halim Perdanakusuma.
Kmdian Cessna P172 jatuh di Cirebon.
Skrg sdg menunggu pesawat ruang angkasa planet Bumi yg sdng terbang di Galaksi Bimasakti akn sedikit jatuh saat approach persiapan mendarat di zaman dunia baru 5 Ahau Suku Maya.

Belasan juta penumpang deck Jawa & Sumatra akan mencapai tujuan akhirnya dlm menjalani kehidupan ini & selanjutnya pindah ke alam barzakh. Bagi yg zalim dipersilahkan menjalankan prosedur penyelamatan 666 sebelum terlambat.

Pergantian zaman yg ditandai meletusnya Gn Gede disusul 7 gn + 3 gn akan segera terjadi. Kabar gembira bagi penduduk Jawa & Nusantara karena ini berarti Satrio Piningit / Budak Angon / 666 / Khalifah al Mahdi secara resmi dilantik secara langsung oleh Allah SWT menjadi Ratu Adil. Tetapi berhati-hatilah dgn gempa & tsunami yg mengikutinya. Sing eling & waspadha, karena goro2 yg lamanya 17 mingguan itu dimulai.

memang dengan kondisi politik dan demokrasi apakah mungkin satrio piningit.. apakah poin ini bisa kita bawa ke alam logika sehingga teman2 bisa lebih memahami..

memang melalui blog cara bangkit ada kita munculkan cara baru untuk mengusung capres 2014.. dan memungkin orang tidak mempunyai kekuatan partai dan dana bahkan ketenaran bisa muncull..

mohon pandangan secara lebih spritiualnya barangkali.. dapat memberikan masukan berharga..

apalagi yang uniknya pada jajak pendpat malah muncul nama satrio piningit sebesar 98%.. sehingga saya tertarik untuk mendalami hal ini.. terima kasih atas perhatiannya

Beliau (SP) itu bukan akan jadi presiden, tapi pemimpin kerajaan nusantara.

Hadir saat pemerintahan bubar. Ekonomi riba hancur.

Ciri paling kentara adalah ada pedang al faqr padanya. Jika tak meleset muncul dari pusat nusantara.

banyak yg mengaku jadi SP,ratu adil,imam mahdi,kalky avatar dll.semua pada mengaku asli,saya sudah mencari selama 40tahun,tapi tahukah anda siapa sebenarnya yg asli tersebut?….bersambung….pokoknya dahsyat….saya setiap comment diblog yg lain banyak yg diblokir.moga moga disini tidak demikian….trims


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: