Kenapa Mesti Anti dengan Imam Mahdi?


Sudah menjadi semacam sunnah alam, setiap sesuatu itu pasti ada yang menyokong dan ada

pula yang akan menentangnya. Perkara Imam Mahdi ini juga tidak terkecuali karena memang sudah

diketahui umum pula bahwa ada yang menyokong dan mempercayainya, manakala segolongan lagi

menentangnya dengan segala daya upaya yang ada pada mereka. Kebanyakan mereka adalah dari

kalangan cendekiawan atau sarjana Islam mutaakhirin.

Kadang-kadang kita heran mengapa mereka mesti menentang kemunculan Imam Mahdi.

Memang kita akui bahwa ada suatu pepatah Arab yang menyebutkan bahwa,

Setiap manusia itu memusuhi apa yang dia tidak ketahui.

Tetapi, apakah alasan sebenar mereka menentang kemunculan Imam Mahdi itu tidaklah kita

ketahui. Hanya beralasankan jahil terhadap isu Imam Mahdi, tidaklah dapat diterima bulat-bulat,

sekalipun ada benarnya juga. Kita harus ingat bahwa isu Imam Mahdi bukan reka-rekaan tukangtukang

cerita karena ia diberitakan sendiri oleh baginda Rasulullah SAW, perawinya adalah orangorang

yang sama yang meriwayatkan hadits-hadits mengenai hukum-hukum Islam yang lain, sanadnya

saling kuat-menguat, matannya saling berkaitan, dan tarafnya bukan lagi maudhuk tetapi sudah

sampai ke taraf mutawatir maknawi.

Apa yang perlu kita takutkan terhadap Imam Mahdi? Beliau datang bukannya membawa bala,

malah menghilangkan bala. Tidak juga untuk menyusahkan kita, jauh sekalilah mau menyekat

pembangunan dan kemajuan umat. Kita kata kita bimbang kepercayaan kepada Imam Mahdi akan

menyebabkan umat Islam leka dan terus mundur. Apakah dengan menolak terus kedatangan Imam

Mahdi, umat Islam dapat maju dan membangun serta mampu mengalahkan tamadun orang-orang

kafir Barat itu? Jawabnya, tidak juga.

Sebab itu setiap umat Islam tidak perlu berasa takut terhadap kemunculan Imam Mahdi. Kita

tidak perlu takut dengan Imam Mahdi kalau kita tidak berbuat apa-apa kesalahan. Lainlah kalau kita

sudah banyak buat dosa dan kezaliman terhadap manusia, maka patutlah kita berasa takut. Jika takut,

bertaubatlah segera dan tinggalkan segala perbuatan lama yang jahat itu, insya-Allah tidak akan ada

apa-apa apabila Imam Mahdi itu muncul nanti. Jangan pula kita berasa bimbang, berprasangka yang

bukan-bukan dan lebih-lebih lagi jangan memperkecil-kecilkan beliau.

Sebaik-baiknya sikap kita ialah jangan sampai tidak percaya langsung, dan jangan juga sampai

tidak tahu-menahu langsung tentang Imam Mahdi. Bukan apa, kalau kita tidak percaya langsung,

takut-takut nanti apabila beliau datang, kita masih lagi coba menafikan dan menolaknya. Sesiapa yang

tetap menolak Imam Mahdi sedangkan pada ketika itu beliau sudah muncul di depan mata, berarti dia

sudah berada di pihak musuh Islam, yakni kafir.

Kadang-kadang kita menolak kemunculan Imam Mahdi karena masih sayangkan sistem

Barat yang telah sekian lama menguasai hati dan fikiran kita dan umat manusia seluruhnya. Mungkin

masih ada rasa sayang hendak meninggalkan sistem pusaka mat saleh itu, biar pun telah lapuk dan

terlalu reput. Maklumlah, benda yang telah lama dan hampir sebati dengan hati kita, bukan senang

hendak menanggalkannya. Di samping itu, mungkin juga karena ada perasaan kurang yakin dengan

orang pilihan Allah itu untuk menerajui kita umat Islam seluruhnya.

Jika itu alasan kita, mudahlah untuk menjawabnya. Biarkan Islam naik dahulu dan lihatlah

perubahan yang mampu dilakukannya, kemudian fikirkan semula buruk baiknya sistem yang naik

memerintah itu. Adakah sistem itu lebih baik daripada sistem Barat atau Baratkah yang lebih baik

daripada sistem Islam? Jika Islam lebih baik, maka kita sangatlah beruntung dan bertuah karena

mendapat dua kejayaan sekali gus. Jika sistem Islam itu gagal, ketahuilah bahwa yang gagal itu bukan

agama Islam, tetapi kelemahan pengikut-pengikut yang melaksanakannya. Kita tidak rugi apa-apa

karena sebenarnya kita telah mencoba. Malah kita sebenarnya telah diberikan pahala karena mencoba!

Imam Mahdi Sudah Lahir?

Selain meyakini zahirnya Imam Mahdi, ada pula segolongan ulama Ahlus Sunnah yang

meyakini bahwa Imam Mahdi itu kini sudah pun lahir dan masih hidup. Artinya mereka sudah

pun menetapkan secara batang tubuh orang yang dikatakan sebagai Imam Mahdi. Sayid al-Amin

menyebutkan 13 nama ulama besar Ahlus Sunnah yang berkeyakinan demikian yaitu:

1. Kamaluddin Muhammad bin Talhah as-Syafie.

2. Muhammad bin Yusuf al-Kanji as-Syafie.

3. Ali bin Muhammad as-Sabbagh al-Maliki.

4. Abul Muzaffir Yusuf al-Baghdadi al-Hanafi.

5. Imam Mahyuddin Ibnu Arabi.

6. Abdul Rahman bin Ahmad as-Syasni al-Hanafi.

7. Syeikh Abdul Wahab asy-Syakrani.

8. Imam Ata’ullah bin Ghiasuddin.

9. Muhammad bin Muhammad al-Bukhari.

10. Al-Arif Abdul Rahman.

11. As-Syeikh Sayid Hasan al-Iraqi.

12. Ahmad bin Ibrahim al-Balazari.

13. Abdullah bin Ahmad (Ibnul Khosyab).

Selain nama-nama di atas, ulama-ulama lain yang meyakini Imam Mahdi sudah lahir dan

masih hidup adalah Imam as-Suyuti, Imam ar-Ramli, Habib Alwi al-Haddad dan Syeikh Ali al-

Khawas. Selain mereka, ramai lagi ulama yang turut meyakini hal yang demikian, cuma sebahagian

besar mereka tidak menyatakan secara jelas akan keyakinan mereka itu.

Imam as-Suyuti menyebut bahwa gurunya, Sayid Hasan al-Iraqi menegaskan bahwa Imam

Mahdi sudah lahir pada tahun 255 Hijrah. Menurut Imam as-Suyuti lagi, perkara ini telah dipersetujui

oleh Syeikh Ali al-Khawas. Imam Ahmad ar-Ramli menyatakan bahwa Imam Mahdi sudah pun

lahir. Secara lebih tegas dan jelas, Imam Abdul Wahab as-Syakrani menyatakan pada tahun 1301

Hijrah, umur Imam Mahdi adalah 1,046 tahun.

Pada zaman ini, ramai juga ulama, terutama di sebelah Timur ini yang menyatakan dan

meyakini bahwa Imam Mahdi itu sudah lahir dan hidup di dalam alam ghaib yaitu alam para wali.

Beliau dikatakan sedang menjalani suluk, beruzlah dan mendapat tarbiah secara langsung daripada

Allah melalui Rasulullah SAW dan para sahabat besar untuk menjadikannya sebagai pemimpin akhir

zaman yang sempurna.

Para pengikut Syiah pula lebih berani. Mereka mendakwa bahwa Imam Mahdi itu telah pun

lahir, kini sedang berada di alam ghaibah kubra dan akan bangkit semula. Kini Imam Mahdi Syiah itu

sedang berada di alam ghaibnya, yang pusatnya ialah di dalam sebuah gua. Dari gua itulah Imam

Mahdi mereka memberi arahan itu dan ini melalui Timbalan-timbalannya yang dilantik khusus untuk

tujuan itu.

Mereka ini bukan saja meyakini Imam Mahdi itu sudah lahir, malah mereka telah pun

secara pasti menetapkan bahwa Imam Mahdi itu adalah Muhammad bin Hasan Al-Askari, yang kini

sedang berada di alam ghaib dan menanti masa saja untuk keluar memerintah dunia ini. Pihak Syiah

yang lain mendakwa bahwa yang bakal muncul itu adalah Imam Muhammad bin Ali Al-Hanafiah,

putera Sayidina Ali KMW. Juga didakwa sebagai belum mati dan sedang berada di alam ghaib, sama

separti yang didakwa terhadap Muhammad bin Hasan Al-Askari.

Namun tidak pernah pula kedengaran ada ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah di negara ini

yang secara terang-terangan menyatakan bahwa orang Syiah itu telah kufur, sesat, bidaah, khurafat

atau sebagainya, separti yang lazim dituduhkan oleh mereka kepada sesama golongan Ahlus Sunnah

sendiri, terutama di kalangan ahli tasawuf atau jemaah kebenaran.

Ada Dua Orang Imam Mahdi?

Berdasarkan kisah yang diceritakan oleh para ulama yang soleh sejak zaman dahulu lagi

hinggalah sekarang, ada dua orang Imam Mahdi yang pernah dikisahkan, yang berada di kalangan

umat Islam sejak dari dulu hinggalah ke hari ini. Imam Mahdi yang dikisahkan di sini adalah dari

kalangan Ahlus Sunnah saja, bukan dari aliran-aliran lain. Kedua-dua Imam Mahdi ini mempunyai

ciri-ciri dan tanda-tanda yang menepati apa yang telah disebutkan di dalam hadits-hadits Nabi SAW.

Baik juga jika kita perhatikan kedua-dua kisah ini, dengan tujuan untuk menambah ilmu,

mematangkan lagi pemikiran, mempertajamkan minda dan bagi sebahagian orang, untuk

menambahkan lagi keyakinan.

Kisah Pertama:

Cerita Sayid Syeikh Hasan Al-Iraqi

Imam as-Suyuti memindahkan kata-kata gurunya, al-Iraqi, bahwa Imam Mahdi dilahirkan

pada tahun 255 Hijrah. Imam as-Suyuti berkata bahwa perkara ini telah dipersetujui oleh Syeikh Ali

al-Khawas. Imam as-Suyuti berkata lagi bahwa umur Imam Mahdi, sehingga waktu beliau itu, yaitu

tahun 958 Hijrah ialah 703 tahun. Kisah yang selengkapnya adalah begini:

Sayid Hasan al-Iraqi telah menceritakan satu kisah kepada Sayid Abul Abbas al-Harisi dengan

katanya:

“Aku hendak menceritakan kepadamu satu kisah pada permulaan hidupku sehinggalah waktu

ini, seolah-olah engkau adalah sahabatku sejak dari kecil lagi.”

Dia menyambung lagi, “Sebenarnya aku adalah anak muda yang berasal dari Damsyik,

bertugas sebagai pengusaha kerjatangan. Pada suatu hari Jumaat, aku bersama-sama kawan-kawanku

telah duduk berkumpul dengan tujuan berfoya-foya, bersuka-suka, bergelak ketawa, bermain-main

dan menunggang arak. Tiba-tiba datang suatu suara yang berupa satu peringatan daripada Allah SWT,

Apakah untuk ini kau dijadikan?”

“Setelah aku dikejutkan dan sedar, aku terus meninggalkan kawan-kawanku bersama-sama

dengan perbuatan mungkar mereka. Aku lari daripada mereka. Rupa-rupanya mereka mengekori aku

dari belakang tetapi mereka tidak menjumpai aku. Aku terus masuk ke dalam Masjid Jamik Bani

Umaiyah. Aku terkejut apabila aku dapati ada seorang lelaki yang sedang duduk di atas kerusi, seolaholah

dia itu adalah Imam Mahdi Alaihis Salam. Datanglah perasaan yang mendalam dalam hatiku

untuk bertemu dengannya sehingga aku berdoa di dalam setiap kali sujud sembahyang dengan

harapan dapat bertemu dengan lelaki itu.

Pada suatu malam selepas solat maghrib, aku mendirikan solat sunat, tiba-tiba muncul

seorang lelaki di belakangku. Dia mengusap bahuku dan berkata, “Wahai anakku, Allah telah

mengabulkan doamu terhadap apa yang engkau hajati. Aku adalah Imam Mahdi.”

Lantas aku bertanya, “Apakah tuan sudi pergi ke rumahku (dan tinggal beberapa hari)

bersama-sama denganku?”

Dia menjawab, “Baiklah.” Lalu dia mengikuti aku.

Apabila sampai di rumahku, dia berkata, “Kosongkanlah satu tempat yang boleh aku duduk

bersendirian.”

Aku pun menunaikan hajatnya. Al-Mahdi duduk bersama-samaku selama tujuh hari tujuh

malam. Masa itu jugalah dia telah membacakan/mengijazahkan kepadaku zikir-zikir.

Dia berkata, “Aku akan ajarkan dan memberitahu kamu wirid-wiridku yang mana hendaklah

engkau berkekalan melakukannya. Insya-Allah berpuasalah sehari dan berbukalah pada keesokannya.

Lakukanlah solat sebanyak lima ratus rakaat semalaman.”

Aku pun menunaikan suruhannya.

Mulai saat itu, aku pun menunaikan solat sebanyak itu di belakangnya pada tiap-tiap malam.

Pada waktu itu, aku masih muda remaja dan sebagai anak muda yang kacak dan bergaya. Selepas itu,

al-Mahdi berkata, “Janganlah engkau duduk (bersembahyang dan berzikir) kecuali di belakangku.”

Aku pun menurut perintahnya.

Dari situ aku dapat melihat bahwa serbannya adalah serban orang Ajam dan dia

mengenakan jubah dari bulu-bulu yang indah.

Setelah tamat tujuh hari, dia pun meninggalkan aku dan aku juga mengucapkan selamat

tinggal kepadanya. Akhir sekali dia berkata kepadaku, “Ya Hasan, tidak pernah berlaku pertemuan

seumpama ini di antara aku dengan seseorang kecuali antara aku dengan engkau. Kekalkanlah wiridwirid

itu sehinggalah ke waktu tuamu. Sesungguhnya engkau akan dipanjangkan umur.”

Sekadar itu saja perkataan al-Mahdi kepadaku. Sayid Hasan berkata, “Umurku pada waktu

itu (sewaktu menceritakan pengalaman ini) adalah 127 tahun.” Sayid Hasan al-Iraqi telah meninggal

dunia pada tahun 930 Hijrah (semoga Allah taala merahmati akan rohnya yang mulia itu, amin)

separti yang diriwayatkan orang.

Kisah Kedua:

Cerita Sayidi Syeikh Muhammad bin Abdullah As-Suhaimi

Yang dimaksudkan di sini ialah peribadi yang disebutkan dalam Manaqib yang terkenal di

Asia Tenggara ini yaitu Sayidi Syeikh Muhammad bin Abdullah As-Suhaimi Rahimaullahu Taala

Anhu, seorang lelaki berketurunan Sayid yang lahir di Sudagaran, Wonosobo, Pulau Jawa, pada tahun

1259H. Terkenal di kalangan anak muridnya dengan panggilan Kiyai Agung atau Embah Agung.

Berdasarkan keturunannya, beliau adalah keturunan Ahlulbait, dari sebelah keturunan

Sayidina Husain bin Sayidina Ali RA. Namanya adalah Muhammad bin Abdullah bin Umar bin

Abdul Rahim bin Abdul Karim bin Muhyiddin bin Nuruddin bin Abdul Razak al-Madani bin Hasan

bin Abu Bakar asy-Syaibani. Dikenali dengan panggilan Abu Abdillah, sama separti yang disebutkan

di dalam hadits-hadits dan sama dengan panggilan Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

Datang dari keturunan Bani Basyiban, yang berasal dari Hadramaut. Datuk neneknya

berpindah ke Tanah Jawa, bertempat di Kota Bondowasa, daerah Basuki, Jawa Timur. Menurut

Muhammad Amin bin Fadhlullah Al-Mubhi dalam kitabnya Khulasatul Asar Fi A’ayan al-Qarnil

Hadi Asyar, bahwa sebahagian Bani Basyiban telah meninggalkan Hadramaut dan Makkah sejak

kurun kesepuluh Hijrah lagi, kebanyakannya ke India. Hal separti ini turut disebutkan oleh Sayid

Muhammad al-Idrus dalam kitabnya, Aidhahu Asrar ‘Ulumul Muqarrabin.

Menurut Majalah Ar-Rabithah yang diterbitkan di Jakarta, Indonesia pada tahun 1347

Hijrah (1929M), Bilangan 8 – 9, disebutkan bahwa Bani Basyiban itu adalah dari keturunan Sayidul

Faqih Muqaddim Muhammad Baklawi. Dan menurut ulama yang mengetahui, Bani Basyiban

sudah tiada lagi pada masa itu di Hadramaut.

Jelaslah bahwa beliau adalah orang yang mulia, dari keturunan yang mulia-mulia dan

beragama yang tinggi. Memang, orang yang bakal menjadi Imam Mahdi mestilah datang dari

keturunan yang baik-baik dan mulia, tinggi-tinggi penghayatan Islamnya, sangat menjaga hal ehwal

agama dan sangat berakhlak mulia.

Beliau pernah menuntut di Mesir dan Makkah sebelum pulang ke Nusantara. Beliau sempat

menerima ajaran kerohanian daripada Sayidina Khidir AS dan mengalami beberapa kejadian ajaib di

sana. Beliau dituruti oleh isterinya di Makkah masa pengajiannya itu.

Sebelum mendapat aurad yang sekarang diamalkannya, dikatakan sebelum itu beliau pernah

berasa keberatan serta tidak cukup masa untuk mengamalkannya dengan sempurna. Lalu beliau pun

berdoa kepada Allah agar ditunjukkan cara untuk meringkaskan seluruh amalannya itu atau apa cara

pun untuk mengatasinya.

Tidak lama kemudian, beliau pun mendapat alamat menyuruhnya masuk ke dalam Kaabah

selepas tengah malam pada suatu malam tertentu. Apabila masuk ke dalam Kaabah, beliau mendapati

beliau telah bertemu dengan roh Rasulullah SAW dalam keadaan jaga, bukan mimpi, dan baginda

SAW telah mengajarkannya bacaan aurad yang pada hari ini lebih dikenali dengan nama Aurad

Muhammadiah. Maka jadilah aurad itu sebagai induk bagi seluruh amalannya yang banyak itu, dan

diizin untuk diturunkan kepada sesiapa muridnya yang mau mengamalkannya.

Setelah pulang ke Nusantara, beliau memilih Singapura dan Kelang sebagai tempat

tinggalnya. Di dua tempat inilah beliau mengembangkan ajaran Islam kepada seluruh penduduk

setempat. Selain itu, dinyatakan juga beberapa kejadian pelik yang berlaku ke atas dirinya, yaitu

karamahnya. Ada yang besar, dan ada yang kecil, yaitu sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang

yang benar-benar bertaraf wali Allah.

Setelah beberapa lama, pada suatu hari, beliau memanggil sebahagian ahli keluarganya dan

beberapa orang murid kanannya untuk berunding. Menurutnya, sudah sampai masa untuknya ghaib

daripada mereka, bukan mati, karena beliau akan kembali lagi. Disebutkannya juga sebab beliau ghaib

itu, ke mana ghaibnya dan siapa yang beliau akan jadi. Sesiapa yang panjang umur, insya-Allah akan

bertemu dengannya lagi.

Setelah itu beliau berunding dengan mereka cara untuk menutup kehilangannya yang

sementara itu. Kata putus diambil setelah perundingan itu yaitu meninggalkan sesuatu yang

nampaknya separti jasad untuk menggantikan dirinya yang sebenar. Tujuannya untuk mengelakkan

buruk sangka dan tuduhan dari orang ramai pada masa itu yang tidak tahu-menahu akan hujung

pangkal kisahnya itu.

Setelah selesai perundingan itu, maka Syeikh as-Suhaimi pun meninggallah di Kelang pada

1925M (1343 Hijrah) dalam usia 82 tahun, dikebumikan di sana, dan makamnya masih tetap

terpelihara hingga ke hari ini di Kelang. Menurut anak-anak Syeikh as-Suhaimi, bapanya masih lagi

hidup dan selalu ditemui, sama ada didatangi atau diziarahinya dari masa ke masa, di Kelang atau

Singapura. Cuma akhir-akhir ini, beliau jarang-jarang datang karena urusannya semakin bertambah

karena masa untuknya kembali lagi ke dunia nyata ini sudah semakin hampir.

Antara anaknya yang terkenal soleh dan alimnya, ramai anak muridnya dan paling menonjol

ialah Al-Allamah Al-Marbiyal Khobir, dan Khatibul Qadir dan Da’ie Al-Basyir Ilallah, As-Syeikh

Sayid Muhammad Fadhlullah ibnu As-Syeikh Sayid Muhammad as-Suhaimi, yang terkenal dengan

sebutan Fadhlullah Suhaimi al-Azhari. Lahir di Singapura dan meninggal dunia juga di Singapura,

pada tahun 1964 (1384H), berusia 78 tahun.

Kesimpulan Dari Kedua-dua Cerita Imam Mahdi Tadi

Jika diperhatikan kedua-dua cerita tadi, ada beberapa perkara yang amat menarik mengenai

kedua-dua peribadi yang dikatakan Imam Mahdi berkenaan. Antaranya disebutkan di sini ialah;

1. Kedua-dua tokoh yang dikatakan sebagai Imam Mahdi itu dilihat atau diriwayatkan sebagai

orang muda. Hal ini mungkin berdasarkan hadits-hadits yang menyatakan demikian.

2. Ciri-ciri Mahdi pada kedua-duanya adalah menepati dengan apa yang telah disebutkan di dalam

hadits-hadits, asar-asar dan juga keterangan para ulama muktabar.

3. Kedua-dua Imam Mahdi itu berada di alam wali, tidak di alam nyata ini dan sedang

memerintah di alam wali tadi. Hanya sekali-sekala saja mereka ini menzahirkan diri ke alam

nyata, dengan maksud tertentu, untuk masa yang tertentu dan kepada orang-orang yang

tertentu pula.

4. Kedua-duanya berumur panjang. Umur panjang itu adalah lebih baik dalam mencapai

kesempurnaan ibadah kepada Allah. Semakin panjang umur seseorang wali itu, semakin

sempurnalah kualiti ibadah mereka kepada Allah. Hal ini adalah lebih disukai oleh kebanyakan

wali berbanding umur yang pendek.

5. Kedua-duanya bukan dari bangsa Arab, tetapi keturunan Ajam, yakni bukan dari bangsa Arab.

Memang mereka berketurunan Rasulullah SAW dan tergolong dalam Ahlulbait, tetapi sudah

jauh Arabnya sehingga dapat pula dikatakan sebagai orang Ajam. Hal ini sangat bersesuaian

pula dengan maksud hadits-hadits yang disampaikan oleh baginda SAW kepada kita.

6. Kedua-duanya membawa wirid-wirid yang bersesuaian dengan zaman berkenaan. Imam Mahdi

pertama membawa wirid-wirid yang sesuai dengan zaman dahulu, manakala Imam Mahdi

kedua membawa wirid-wirid yang sesuai pula dengan keadaan zamannya sekarang ini. Keduaduanya

juga menurunkan wirid mereka kepada anak murid masing-masing untuk diamalkan.

7. Setiap zaman memang ada beberapa Mahdi yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan

manusia dan bumi ini daripada dihancurkan oleh Allah atas dosa-dosa yang mereka lakukan.

Maka, apabila mati seorang Mahdi, akan diutus pula Mahdi yang lain, sehinggalah lahirnya

Mahdi sebenar yang dimaksudkan oleh hadits-hadits.

8. Mahdi pertama tidak menyebutkan bahwa dirinya akan muncul kemudian kelak ke dunia ini,

manakala Mahdi kedua memang menyatakan bahwa dirinya akan muncul semula ke dunia ini

suatu masa nanti dan menjadi Imam Mahdi yang disebut-sebut itu.

9. Kedua-dua Imam Mahdi itu memang tidak popular masa mereka hidup di kalangan manusia,

tetapi menjadi popular setelah mereka berada di alam ghaib, yaitu di alam wali. Tiada siapa yang

sedar bahwa orang itu adalah bakal Imam Mahdi suatu masa nanti.

10. Kedua-duanya adalah orang yang sangat banyak ibadat mereka kepada Allah. Ini amat

bersesuaian pula dengan kedudukan mereka yang tinggi pada sisi Allah dan mulia pada

pandangan seluruh manusia. Sembahyang malam sebanyak lima ratus rakaat adalah amalan

para sahabat RA pada zaman Nabi SAW. Kedua-duanya juga menjadi ikutan zahir batin

seluruh umat Islam dalam hal-hal yang menyangkut dengan urusan agama mereka.

11. Kedua-duanya tidak memakai pakaian yang lazim dipakai oleh bangsa Arab pada zaman

mereka tetapi memakai pakaian yang lazim dipakai oleh orang-orang Ajam. Ini sesuai dengan

makluman hadits-hadits mengenainya. Dan sesuai dengan kedudukan mereka sebagai sebaik-baik

manusia, pakaian mereka juga adalah dari jenis kain yang terbaik yang ada pada zaman mereka.

Kain bulu yang dimaksudkan dalam cerita pertama adalah menunjukkan ketinggian kedudukan

si pemakainya karena kain bulu lazimnya dipakai oleh golongan atasan pada masa itu. Bukan

sebarang-barang orang yang mampu memakai kain dari jenis itu.

12. Kedua-duanya adalah dari kalangan ahli tasawuf yang gigih dalam amalan tasawuf mereka.

Imam Mahdi pertama beramal ibadat sedemikian banyak setiap malam, manakala Imam Mahdi

kedua pula mendapat aurad zikirnya secara langsung daripada Rasulullah SAW sendiri, yaitu

suatu hal yang dianggap mesti bagi semua guru tarekat sejak zaman dulu-dulu lagi. Maka

mereka yang bakal menjadi Imam Mahdi lebih-lebih lagi aula mendapatkannya terus daripada

Rasulullah SAW sendiri. Malah, tidak sah dakwaannya itu jika mereka mendakwa dirinya

sebagai Imam Mahdi sedangkan wiridnya sendiri diijazahkan oleh orang lain, yang bukannya

Rasulullah SAW.

13. Kedua-duanya boleh meramalkan apa yang akan berlaku pada masa hadapan. Dan mereka

menyebutkannya dengan penuh kepastian, tidak ada ragu-ragu. Yang pertama, menyatakan

umur syeikh yang panjang, manakala yang kedua turut mempunyai banyak ramalan yang

ternyata adalah betul. Ini sebenarnya adalah karamah dari Allah untuk mereka berdua sebagai

Sahibul Zaman bagi zaman masing-masing.

14. Jika kita keberatan untuk menerima dan mempercayai salah satunya, jangan pula tolak keduaduanya

sekali. Sepatutnya kita mengkaji lebih dalam, berfikir habis-habisan, meneliti betul-betul

dan mencari kebenaran sebelum membuat apa-apa keputusan. Sebagai seorang yang berilmu

agama yang tinggi dan matang pula dalam soal agama, kita hendaklah bersikap lapang dada.

Orang yang matang fikirannya tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, tidak tergesa-gesa

menolak sesuatu pendapat dan berfikir banyak kali. Sebelum bercakap, banyak berfikir karena

takut tersalah dalam percakapannya itu. Dia menerima sesuatu pendapat dengan alasan yang

jitu dan menolak sesuatu pendapat juga dengan alasan yang jitu, tidak mengikut-ikut saja

tanpa mendapatkan sebarang kepastian.

15. Kemungkinan kedua-dua Imam Mahdi itu adalah orang yang sama adalah besar. Ini

disebabkan keupayaan Imam Mahdi itu keluar sebelum beliau lahir adalah suatu yang tidak

mustahil dan pernah berlaku kepada wali yang lebih rendah tarafnya daripada beliau. Jika ini

benar-benar berlaku, itu adalah suatu keramat yang Allah kurniakan kepadanya. Beliau adalah

orang yang sangat dikasihi oleh Allah SWT, maka tidak mustahil pula bahwa orang yang

diceritakan itu sebenarnya adalah orang yang sama – yang pertama muncul sebelum lahirnya

dan yang kedua adalah setelah beliau benar-benar lahir ke dunia ini. Jika seorang wali yang

bertaraf wali biasa pun boleh muncul ke dunia sebelum lahirnya lagi, maka bakal Imam Mahdi

lebih-lebih lagi aula mendapatkan keistimewaan itu.

16. Imam Mahdi pertama muncul pada akhir kurun ketiga Hijrah, yaitu masa yang terakhir dari tiga

peringkat zaman yang terbaik dalam Islam. Maka bolehlah dikatakan bahwa kemunculan

Imam Mahdi pertama tadi sebenarnya adalah untuk mengambil berkat dari zaman yang terbaik

itu, untuk dibawa ke zaman kemudian daripada itu. Maka apabila Imam Mahdi sebenar

muncul, kemunculannya itu hanyalah sambungan daripada kemunculannya yang pertama

dahulu, yaitu dari zaman yang terbaik yang disebutkan oleh hadits. Ini amatlah sesuai dengan

maksud hadits yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan mengembalikan zaman

kegemilangan Islam, sama separti yang pernah dibawa oleh baginda Rasulullah SAW sendiri,

pada Zaman Kenabian dahulu.

17. Kedua-dua imam ini adalah imam ghaib. Artinya, konsep imam yang ghaib adalah sesuatu yang

diterima baik oleh kalangan ulama besar Ahlus Sunnah, bukan semata-mata wujud di dalam

mazhab Syiah. Namun jika kita perhatikan baik-baik, terdapat perbedaan yang amat ketara

antara ghaibnya Imam Mahdi Ahlus Sunnah dengan ghaibnya Imam Mahdi golongan Syiah. Oleh

itu, tidak perlu timbul persoalan bahwa konsep Imam Mahdi yang ghaib adalah berpunca dari

ajaran Syiah yang sesat lagi menyesatkan. Tuduhan bahwa percaya kepada imam yang ghaib

boleh merosakkan akidah adalah tidak benar dan dibuat berdasarkan ilmu yang amat dangkal

dan alasan yang amat lemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: