Ramalan Peramal-Peramal Terkemuka

Selain keterangan daripada setiap agama besar di dunia ini, terdapat pula sekumpulan

peramal yang terkenal di dunia yang turut meramalkan kedatangan Imam Mahdi atau seorang

pemimpin yang bertaraf dunia, yang akan turun untuk menjalankan pemerintahan yang sangat adil, pada zaman ini, pada abad ini, kurun ini dan alaf ini. Memang meramal sesuatu ramalan adalah suatu perbuatan yang buruk, boleh mendatangkan impak besar kepada akidah kita. Namun ramalan yang bertepatan maksudnya dengan perkhabaran hadits-hadits, berita-berita daripada asar para sahabat RA, kasyaf para wali dan firasat para mukmin tidak salah jika disebutkan, karena keterangan mereka ini sebenarnya membantu menjelaskan lagi maksud hadits-hadits, asar-asar, kasyaf-kasyaf dan firasat firasat itu. Hal ini sebenarnya tidak menjejaskan iman kita jika betul cara dan tempatnya.

Sebahagian mereka ini adalah peramal semata-mata, manakala sebahagian lagi adalah orangorang

besar bagi agama masing-masing, yang telah mencapai taraf kasyaf pula, yaitu menurut

pandangan agama mereka.

Antara peramal bertaraf antarabangsa yang amat terkenal pada hari ini adalah Michel de

Nostredame atau Nostradamus, suatu nama yang hampir sudah tidak perlu diperkenalkan lagi, karena

sudah begitu terkenalnya. Ramalan-ramalannya sudah umum tersebar dan bukan sedikit pula yang

sudah menjadi kenyataan. Antara ramalannya yang amat menggoncangkan dunia Barat ialah bahwa seorang pemimpin baru bertaraf dunia akan muncul, Islam akan kembali menguasai dunia pada alaf baru ini, dan seterusnya memerangi Kristian-Eropah.

Ramalannya bahwa seorang pemimpin baru beragama Islam akan muncul dan seterusnya

menguasai seluruh dunia adalah berdasarkan ramalan beliau separti berikut:

In the year 1999 and seven months

from the sky will come the great King of Terror.

He will bring back to life the King of the Mongols;

Before and after, war reigns.

Tempat muncul pemimpin tersebut adalah di sebuah negara di sebelah Timur, bukan di

negara Arab atau di sebelah Barat, berdasarkan ramalan berikut:

From the three water signs (seas) will be born a man

who will celebrate Thursday as his feast day.

His renown, praise, reign, and power will grow

on land and sea, bringing trouble to the East.

Pemimpin berkenaan akan memimpin pasukan tentaranya yang besar jumlahnya untuk

menyerang dan menakluki Eropah, dan dibantu oleh seluruh umat Islam.

One who the infernal gods of Hannibal

will cause to be reborn, terror of all mankind

Never more horror nor the newspapers tell of worse in the past,

then will come to the Romans through Babel (Iraq).

Pemimpin berkenaan memerangi, mengalahkan dan memasuki Eropah dengan memakai

serban biru, membawa undang-undang Islam untuk diamalkan oleh seluruh penduduk Eropah, dan

peristiwa besar inilah yang amat menakutkan setiap hati pemimpin Kristian dan Yahudi.

This king will enter Europe wearing a blue turban,

he is one that shall cause the infernal gods of Hannibal to live again.

He will be the terror of mankind.

Never more horror.

Selain itu, Sami-sami Hindu di India turut meramalkan melalui ramalannya beberapa tahun

lepas bahwa bakal Perdana Menteri Malaysia selepas ini bukan lagi dari kalangan orang politik.

Diberitakan bahwa Perdana Menteri Malaysia pernah mengemukakan beberapa nama untuk ditenung sebagai bakal Perdana Menteri supaya dapat dilantik sebagai Timbalan Perdana Menteri. Semua nama yang dikemukakan itu ditolak karena diberitahu nama-nama mereka itu tidak ada dalam senarai sebagai pengganti Perdana Menteri. Sahih atau tidak berita ini, tidak dapat dipastikan. Jelaslah bahwa orang yang bakal menjadi Perdana Menteri Malaysia selepas ini tidak lagi dari kalangan orang-orang politik. Tambahan pula, seorang ulama besar di Malaysia telah baru-baru ini membuat perisytiharan bahwa tokoh agama akan menjadi pemimpin Malaysia pada alaf baru ini. Kebetulan pula, Malaysia ini dikatakan sebagai pusat kebangkitan Islam kali kedua, pada akhir zaman, yaitu zaman kita ini. Jika dikaitkan kedua-dua penyataan ini, bagaikan ada kaitan yang rapat antara kedua-duanya.

Anak murid Wali Songo yang amat terkenal di Pulau Jawa, Sabdopalon, turut menyebutkan

bahwa Imam Mahdi akan dibaiat oleh sembilan tokoh Wali Ghausul Alam yang diketuai oleh

seseorang dari Malaysia yang disebutkan sebagai Syeikh Malaya. Beliau menyebutkan bahwa,

Imam Mahdi datang dengan pakaian serba putih dibantu oleh Rijalu’llah

Ghaib atau juga disebut Wali Ghosul’alam sembilan yang di antaranya adalah

Seh Malaya yang turun di Tanah Arab.”

Salah seorang Wali Songo yaitu Sunan Gunung Jati, turut membuat ramalan berdasarkan

kasyaf dari Allah bahwa kebangkitan Islam kali kedua ini akan dipimpin oleh seorang tokoh yang

memakai serban. Dia dikatakan amat berpegang teguh pada sorban kanjeng (ekor serban) Nabi

Muhammad SAW. Yang dimaksudkan dengan sorban kanjeng itu adalah pemimpin umat yang

terakhir, sesuai dengan kedudukan ekor serban yang terletak di hujung sekali. Sorban kanjeng juga

bermaksud mengikut benar-benar setiap sunnah yang diamalkan oleh baginda Rasulullah SAW

masa hayatnya dahulu.

Peramal dari Jawa yang disebut sebagai Pangeran Wijil, yang mengarang Kitab jangka

Jayabaya, turut membuat ramalan bahwa pemimpin yang dimaksudkan itu, lahir di Makkah,

memakai serban yang berlambang bunga tujuh cabang, orangnya selalu ketahuidung kesampar. Dia

tidak pernah diduga akan menjadi pemimpin umat manusia pada suatu hari nanti. Dikatakan lebih

lanjut lagi bahwa sebelum raja baru ini muncul, akan berlaku huru-hara dan kerusuhan. Dan raja

itulah yang akan menjadi orang tengah atau pengaman di antara pihak yang sedang bergaduh itu.

Tanpa diduga-duga, orang ramai pun bersetuju melantiknya sebagai pemimpin mereka karena jasanya yang amat besar itu dan keupayaannya yang menakjubkan itu.

Demikianlah sedikit lagi keistimewaan yang ada pada peribadi yang bergelar Imam Mahdi ini.

Memang Imam Mahdi itu sungguh-sungguh adalah Orang Allah, orang yang dibesarkan karena

sememangnya orang besar Tuhan, besar namanya, besar kedudukannya, patut dibesarkan dan perlu disebut secara besar-besaran pula. Sambutan kepada kemunculannya kelak, juga akan dibuat secara penuh besar-besaran, amat meriah, penuh gembira, sepenuh-penuh kesyukuran, sesuai dengan kedudukannya sebagai orang besar Allah itu. Tidak ada sambutan yang lebih besar dan meriah selain daripada sambutan terhadap kedatangannya ke dunia ini.

Dan, ekoran daripada kepercayaan kepada munculnya Imam Mahdi yang sangat istimewa

inilah, muncul dari masa ke masa orang-orang yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu itu. Mereka ini langsung tidak berasa malu dengan dakwaan kosong mereka itu. Setelah beberapa lama masa berlalu, ternyata pula dakwaan mereka itu adalah palsu dan tujuan mereka di sebalik dakwaan itu terbongkar. Selalunya, mereka langsung tidak berjaya mendirikan kerajaan Mahdiyahnya, malah gagal pula mengubah keadaan masyarakat setempatnya kepada yang lebih baik, sedangkan yang demikian itu wajib berlaku karena telah disebutkan oleh hadits-hdis.

Pengakuan Orang-orang Barat Terhadap Imam Mahdi

Agenda Yahudi yang Kesembilan (untuk memusnahkan umat Islam):

Menjauhkan umat Islam dari memegang tampuk pemerintahan di negara-negara Islam dan

jangan beri kesempatan bergerak.

1. Sehubungan itu, seorang orientalis Inggeris, Montgomery Watt, menulis dalam ‘London Time’

pada tahun 1968:

Kalau sudah ditemui seorang pemimpin Islam yang (benar-benar)

berkelayakan dan bercakap dengan suara Islam yang tepat pula,

kemungkinan besar agama itu akan (bangkit semula dan) merupakan sebuah

kekuatan politik yang besar di dunia ini sekali lagi.”

Yang dimaksudkan oleh Montgomery itu adalah pemimpin yang bertaraf khalifah, karena

hanya seorang pemimpin yang bertaraf khalifah saja yang akan mampu menyatukan kembali

seluruh umat Islam yang sedang kronik berpecah-belah pada hari ini. Pemimpin yang bertaraf

Presiden atau Perdana Menteri tidak termasuk dalam senarai pemimpin yang dimaksudkan oleh

beliau.

Taraf Presiden atau Perdana Menteri yang demikian itu hanya layak untuk memimpin di

dalam wilayah yang terhad atau dihadkan, tidak layak untuk memimpin dunia yang tanpa sempadan,

atau sekurang-kurangnya di seluruh dunia Islam. Hanya seorang pemimpin yang bertaraf Khalifah

saja yang akan diberi kemampuan dan berkelayakan penuh untuk berbuat demikian.

2. Bekas Perdana Menteri Israel, Ben Gurion pernah dilaporkan berkata,

Sesungguhnya yang paling menakutkan kami ialah, kalau dalam dunia

Islam, sudah lahir seorang Muhammad Baru.”

Muhammad Baru yang dimaksudkan oleh Ben Gurion itu tidak lain dan tidak bukan adalah

Imam Mahdi, karena nama Imam Mahdi itu adalah Muhammad, sama dengan nama datuknya, Nabi

Muhammad SAW. Jelaslah bahwa pihak Barat amat takutkan peribadi yang bernama Muhammad

ini, yang digelar sebagai Imam Mahdi, dan ketakutan mereka itu tidak dapat disembunyikan lagi.

Jelaslah bahwa orang-orang Kristian adalah jauh lebih peka daripada kita, umat Islam sendiri

dalam hal mempercayai dan meyakini kedatangan Imam Mahdi ke dunia ini. Mereka sentiasa berjagajaga

menanti tibanya seorang pemimpin Islam bernama Muhammad, tahu pula tempat keluarnya dan

bila keluarnya. Pada masa yang sama kita umat Islam masih lagi sibuk bercakaran mengenai sahih atau

dhaifnya hadits-hadits mengenai Imam Mahdi itu.

Yang percaya kepada kedatangan Imam Mahdi sibuk mengutuk golongan yang tidak percaya,

manakala yang tidak percaya, sibuk pula mengutuk golongan yang percaya kepada kedatangan Imam

Mahdi. Titik pertemuan tidak juga diperoleh. Siapa lagi yang harus dipersalahkan dalam soal ini?

3. A. J. Quinnell, seorang novelis Barat telah menulis sebuah novel bertajuk The Mahdi.

Di dalam novel itu disebutkan andaian beliau bahwa isu Imam Mahdi ini akan dieksploitasi

oleh kuasa-kuasa besar Barat. Kuasa-kuasa besar ini akan bergabung tenaga, fikiran dan matlamat

untuk menonjolkan seorang yang mereka pilih sebagai Mahdi untuk diikuti oleh seluruh umat Islam.

Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan jahat mereka terhadap umat dan negara-negara Islam.

Mahdi boneka ini dirancang oleh perisik-perisik CIA, MI5 dan KGB untuk muncul di Tanah Suci

Makkah. Setelah itu, beliau akan mengarahkan seluruh umat Islam mengikut beliau tunduk kepada

kuasa-kuasa besar Barat itu.

Kesimpulan

Orang-orang Yahudi dan Kristian menyimpan dendam yang amat membara terhadap Islam,

malah bukanlah suatu penyakit yang baru dan ringan. Sakit berdendam mereka ini juga sudah

diketahui oleh kita sejak dahulu lagi, melalui firman-firman Allah di dalam al-Quran. Sejak hayat

Rasulullah SAW lagi, mereka sudahpun dihinggapi oleh penyakit yang amat kronik ini. Puncanya

ialah, mereka mengharap-harap agar rasul akhir zaman yang bakal muncul kelak adalah dari kalangan

bangsa mereka dan sentiasa membangga-banggakan hal ini di hadapan bangsa Arab. Bangsa Arab

pada ketika itu dipandang amat rendah oleh mereka.

Tetapi takdirnya, Nabi Muhammad SAW yang diutuskan itu adalah dari bangsa Arab yang

mereka rendah-rendahkan selama ini. Maka sangatlah sakit hati mereka akan bangsa itu dan kepada

Nabi Muhammad SAW yang diutuskan itu, karena nyata bukan dari kalangan bangsa mereka. Di

samping itu, mereka berasa amat malu kepada bangsa Arab itu karena telah terbukti sekarang bahwa

segala dakwaan mereka selama ini amat jauh meleset.

Sebab kedua ialah, peristiwa pengusiran bangsa mereka dari tanah tempat tinggal mereka di

Madinah. Mereka terpaksa gulung tikar bantal dan angkat kaki, mengucapkan selamat tinggal kepada

Madinah buat selama-lamanya. Kedua-dua peristiwa inilah yang diperturunkan turun-temurun,

dijadikan alasan penting dendam mereka ini terus membara di dalam dada-dada mereka, dan dalam

dada keturunan mereka, yang hingga hari ini terus disogokkan dengan dendam yang membara itu.

Maka hiduplah mereka di dalam selimut dendam itu sepanjang hayat, sambil menyimpan cita-cita

akan mengganyang cukup-cukup umat Islam suatu hari nanti, jika mereka berkuasa ke atas seluruh

dunia ini.

Kemudian, kejayaan para sahabat menakluk dan mengislamkan tiga suku dunia, seterusnya

memimpin dan meneraju dunia dengan penuh kejayaan gemilang, menambahkan lagi parah yang

sedia terluka dan memarakkan lagi dendam yang sedia menyala. Ketika Islam berkuasa, mereka

menjadi bangsa yang cukup hina dan merempat, tiada tempat tinggal yang tetap, tiada negara dan

tiada kerakyatan. Ini sesuai dengan firman Allah yang menjadikan mereka sebagai bangsa yang terbiar,

tidak bernegara. Dendam yang lama itulah juga yang turut dibawa hingga ke hari ini.

Orang-orang Kristian juga mengalami keadaan yang amat memalukan jika dilihat dari segi

sejarah dan juga peradaban. Agama mereka muncul cukup lama sebelum agama Islam muncul. Ketika

umat Islam sedang menikmati kemakmuran dan kemewahan hidup serta ketinggian tamadun, pada

masa yang sama orang-orang Kristian di Eropah masih belum mengenal lagi ilmu pengetahuan,

belum membina apa-apa tamadun pun, tidak mempunyai adab dan masih hidup dalam selimut tahyul

yang amat tebal.

Mereka masih belum kenal lagi apa itu emas dan perak, apatah lagi mau memakai dan

menghargainya. Rumah mereka dibina dari lumpur dan tanah, tidak berkatil dan tanpa berselimut.

Tidur pun di atas lantai saja. Para pencuri sangat banyak, mencuri tidak kira siang atau malam.

Perabot tidak dikenal lagi. Semuanya buta huruf, buta tamadun dan tidak mengenal arti seni dan

kesenian. Hidup mereka tiada tujuan. Sistem beraja baru saja mula diperkenalkan, itupun sebab

meniru-niru serba sedikit sistem khalifah Islam yang telah lama maju itu.

Peristiwa orang-orang Islam menawan dan memerintah Sepanyol adalah duka lama yang

cukup memeritkan. Sepanyol yang sejarahnya cukup dibanggakan oleh bangsa Eropah itu, terpaksa

menerima hakikat bahwa mereka dikuasai oleh Islam dalam tempoh yang cukup lama. Ditambah lagi

dengan cerita bahwa umat Islam hampir-hampir berjaya menakluk Perancis, menambahkan lagi

hebatnya dendam terhadap Islam. Perang Salib yang melibatkan pertembungan antara Islam dan

Kristian adalah cerita sejarah yang cukup popular untuk dibaca, dikaji, ditatap dan diambil pengajaran.

Ternyata, orang Kristian terpaksa menelan sejarah yang amat pahit akibat kekalahan dalam

peperangan tersebut.

Pihak saraken (panggilan mereka kepada orang-orang Islam, yang artinya kaum musyrikin

bagi penganut Kristian) yang coba mereka kalahkan dengan kekuatan senjata dan ketentaraan,

sebenarnya tidak dapat dikalahkan secara berdepan begitu. Mereka akhirnya terpaksa memikirkan

strategi baru untuk menghadapi pihak musuh agama yang amat hebat dan gagah ini. Peperangan kali

ini tidak lagi menggunakan kekuatan senjata sebagai modal utama. Lamalah masanya yang terpaksa

mereka ambil untuk mencari jalan baru buat mengalahkan bangsa Arab saraken itu.

Pihak Kristian mengambil iktibar daripada siri peperangan tersebut bahwa umat Islam tidak

akan dapat dikalahkan dengan mudah, melainkan setelah mereka berjaya dijauhkan daripada al-Quran

sejauh mungkin. Maka selepas itu dan seterusnya, mereka mengatur pula perang saraf yang matlamat

asasnya adalah menjauhkan generasi muda Islam ini daripada menghayati al-Quran. Inilah kajian yang

telah mereka jalankan sejak sekian lama, suatu kaedah yang dirasakan cukup sesuai pada zaman ini,

dan sasaran utama mereka adalah golongan kanak-kanak, remaja dan wanita.

Cobaan ini sekali imbas nampak mustahil atau hampir mustahil berjaya dilakukan. Namun,

hasil strategi yang mantap dan tersusun rapi, serta tidak mengenal arti putus asa, maka pada hari ini,

umat Islam sudah beransur-ansur meninggalkan al-Quran dari kehidupan mereka. Yang ada hanyalah

kegiatan membacanya, bukan mengamalkannya. Yang membaca al-Quran tidak memahami apa yang

dibacanya dan yang mendengar hanya mau mencari kesilapan dan kekurangan sang pembaca. Arti

dan penghayatan al-Quran jauh tartinggal di belakang.

Dan hasilnya, apabila Islam mula melemah, Kristian mula mengambil alih teraju dunia

daripada umat Islam. Islam kalah dan kalah, jatuh dan jatuh. Umat Islam yang suatu ketika dahulu

pernah mendapat kemenangan besar dan menjulang megah sebagai kuasa agung yang menguasai dan

menjadi tuan di dunia, sedikit demi sedikit terlucut kuasanya daripada tangan. Pemerintahnya hilang

kuasa manakala para ulamanya pula hilang roh perjuangan. Maka yang tinggal hanyalah rakyat jelata

yang tidak mempunyai ibu dan bapa, terkontang-kanting dipermainkan oleh pihak musuh yang

menaruh dendam kesumat sepanjang zaman itu.

Habis negara-negara yang pernah dikuasai oleh Islam dirampas, dijajah dan dijarah oleh

Kristian. Malah, negara-negara Islam sendiri pun turut dijajah, dijarah dan dikuasai sepenuhnya oleh

kuasa Kristian. Akhirnya habis punah politik, ekonomi, akhlak, pendidikan, pemikiran dan diri umat

Islam, berganti dengan sistem politik, ekonomi, akhlak, pendidikan, pemikiran, budaya dan

keperibadian yang bersumber dari Barat. Semuanya tergadai, tidak ada apa yang tinggal lagi untuk

dibanggakan. Maka dendam datuk nenek moyang mereka selama ini pun terbalaslah sudah.

Terbayarlah dendam seribu dua ratus tahun lebih itu. Namun mereka tetap tidak berpuas hati dengan

kejayaan yang sedemikian itu.

Tekad dan usaha mereka tidak berhenti setakat itu saja. Kalau boleh, semua umat Islam

hendak dikristiankan sama. Yahudi yang selama itu bersikap sembunyi tangan mula menampakkan

tangan dan taringnya yang sebenar. Mereka mula menyinar apabila Kerajaan Osmaniyah berjaya

dihapuskan dari atas muka bumi ini. Mereka yang sudah ditetapkan oleh al-Quran sebagai bangsa

yang tidak mempunyai negara dan tanah air, kini sudah mendapat pembelaan daripada sekutu

Kristiannya.

Tangan-tangan mereka berfungsi dari belakang, dan tangan-tangan yang di belakang itulah

yang sebenarnya mencatur dunia. Mereka lebih berminat menyesatkan pemikiran umat Islam karena

pada pandangan mereka, jika pemikiran umat Islam berjaya diyahudikan, umat Islam akan

meninggalkan agama mereka tanpa perlu disuruh-suruh atau diperangi lagi. Golongan remaja dan

wanitalah yang nampaknya paling berjaya ditakluk oleh mereka.

Maka pada hari ini kita lihat di atas kejayaan pihak Kristian menakluk dunia dan mengatur

agar sistem mereka diterapkan dalam seluruh aspek, seluruh dunia dapat melihat pula bahwa pihak

Yahudilah yang sebenarnya menjadi dalang di sebalik kejayaan Kristian itu. Kita dapat melihat

bahwa sebenarnya Yahudilah yang memainkan peranan besar di atas kejayaan pihak Kristian itu.

Artinya, kedua-dua musuh Islam itu berganding bahu dalam usaha mereka menghancurkan Islam dan

umat Islam, separti yang dapat kita lihat pada hari ini.

Umat Islam perlu menanti datangnya seorang pemimpin yang dijanjikan oleh Allah sebelum

mereka boleh mengalahkan Yahudi dan Kristian, seterusnya menabalkan semula Islam di persada

dunia, sebagai tuan yang sebenar ke atas seluruh muka bumi ini. Mana pemimpin yang mampu

berbuat demikian? Adakah orangnya pada hari ini? Jika ada, siapakah dia? Di mana dia berada

sekarang? Di mana tempat bermulanya pemerintahan Islam yang bersifat universal itu? Adakah ulama

itu sedang berjuang ke arah itu atau tidak? Adakah orang ramai menyambut perjuangan ulama itu?

Ternyata, pemimpin yang ada pada hari ini tidak mampu menyatukan kembali umat Islam

seluruhnya. Para ulamanya lagilah tidak mampu. Jumlahnya amat ramai pada hari ini, tetapi yang

benar-benar diterima oleh seluruh umat Islam itu, siapa orangnya? Tunjukkan mana dia seorang

ulama, cendekiawan, sarjana, profesor atau apa-apa gelaran pun, yang tersohor pada hari ini, yang

boleh benar-benar diikut oleh seluruh umat Islam. Taraf para ulama hari ini pun dipandang tidak

lebih daripada orang awam juga, cuma mereka lebih bijak bercakap tentang agama daripada orang lain

karena mereka belajar agama lebih sedikit daripada orang ramai. Maka karena itu, mereka pun

dilabelkan sebagai ulama. Dari segi praktiknya, mereka sama saja dengan praktik orang awam.

Yang ada pada hari ini kebanyakannya hanyalah ulama yang lebih berminat mencari

populariti diri, atau yang sibuk mengumpul harta untuk kepentingan diri sendiri, atau yang lebih

berminat mencari pangkat yang tinggi dalam kerajaan, atau menjadi pensyarah di universiti-universiti.

Masalah umat tidak dipedulikan langsung. Bukan tugas aku, katanya. Umat tunggang-langgang di

depan mata pun, dibuat macam tak nampak saja. Para pemimpin lintang pukang di depan kakinya

pun dibuat-buat tak nampak saja. Kena jaga hati pemimpin kita, nanti aku dipecatnya pula, katanya.

Umat Islam bukan saja terbiar dan tidak dididik, malah ulamanya sendiri pun turut hanyut separti

mana hanyutnya para pemimpin mereka dan umat Islam secara umumnya. Malah sebahagian mereka

sendiri lebih teruk hanyutnya daripada kedua-dua golongan tadi. Mereka kelihatan lebih tidak

berpendidikan agama daripada orang awam yang sepatutnya menerima pendidikan Islam daripada

mereka.

Pemimpin-pemimpin negara Islam pula dilihat lebih sibuk menguruskan hal ehwal dalaman

di negara masing-masing daripada berusaha menyatukan seluruh negara Islam di bawah satu

pemerintahan pusat yang bertaraf dunia. Masalah dalaman menurut pandangan mereka lebih besar

dan mustahak daripada usaha menyatukan seluruh negara Islam. Hasilnya, umat Islam terus-menerus

terbiar, tertekan, ditekan dan ditindas oleh musuh. Tiada siapa yang dapat membela mereka lagi jika

berlaku peperangan atau pergaduhan dengan mana-mana pihak.

Umat Islam terus terbiar, dan terbiar. Pemimpin Islam dari negara lain hanya dapat

melahirkan rasa simpati dan kasihan, tanpa dapat membantu. Habis-habis pun hanyalah bantuan

kewangan, pakaian buruk dan ubat-ubatan yang dapat diberikan. Bantuan-bantuan lain yang lebih

berarti tidak dapat diberikan lagi. Misalnya bantuan ketentaraan, senjata, semangat dan makanan

keperluan tidak akan dapat diberikan lebih daripada hadnya. Kalau hendak beri pun, ikut jalan

belakang, senyap-senyap dan sekali-sekala saja.

Bagaimana mereka hendak menolong orang lain? Kedudukan mereka sendiri pun sentiasa

tidak menentu, bila-bila masa saja boleh dijatuhkan oleh pihak pembangkang atau digulingkan oleh

pihak tentaranya sendiri. Perempuan upahan sentiasa menanti masa untuk mendedahkan ‘kekotoran’

peribadinya di khalayak umum. Jika tidak pun, rakyat akan bangun memberontak dan menunjuk

perasaan di jalan-jalan raya. Masing-masing amat takut kepada bayang-bayang yang mereka buat

sendiri. Tiada pemimpin yang benar-benar berwibawa untuk didengar cakapnya oleh seluruh umat

Islam.

Maka, rasa-rasanya dalam keadaan sebeginilah, Allah akan utuskan seorang pemimpin untuk

membantu umat Islam keseluruhannya. Pemimpin itu bukanlah sebarang orang atau peribadi, karena

peribadi-peribadi pemimpin yang ada pada hari ini dilihat amat lemah dan tidak mampu menyatukan

seluruh manusia Islam di seluruh dunia, yang pada ketika ini sedang amat nazak imannya. Mereka ini

semuanya ternyata gagal menyatukan kembali seluruh umat Islam. Bukan saja gagal menyatukan

umat Islam di seluruh dunia, malah di dalam negara masing-masing pun masih gagal disatukan.

Mereka juga tidak mampu mengangkat dan mengembalikan Islam separti pada zaman gemilangnya,

tepat separti yang telah diisyaratkan oleh hadits-hadits.

Pandangan Ensiklopedia Barat Tentang Imam Mahdi

Satu:

Mahdi

[Arab., = (he who is devinely guided)], in Sunni ISLAM, the restorer of faith. It is

believed that he will appear at the end of time to restore justice on earth and establish

universal Islam. Among SHIITES the concept of the Mahdi centers on the IMAM.

Throughout Islamic history, many reformers claiming to be the Mahdi have arisen.

One such was Muhammad Ahmad, 1844-85, a Muslim religious leader in the Anglo-

Egyptian Sudan. In 1881 he declared himself to be the Mahdi, but he died soon after

capturing KHARTOUM. Lord KITCHENER defeated his followers at Omdurman

in 1898.

Dua:

The Columbia Encyclopedia: Sixth Edition, 2000.

Mahdi

(mä´d) (KEY) [Arab.,=he who is divinely guided], in Sunni Islam, the restorer of the

faith. He will appear at the end of time to restore justice on earth and establish

universal Islam. The Mahdi will be preceded by al-Dajjal, a Muslim antichrist, who

will be slain by Jesus. This belief is not rooted in the Qur’an but has its origins in

Jewish ideas about the Messiah and in the Christian belief of the second coming of

Christ. Among the Shiites the concept of the Mahdi takes a different form (see

imam). In the history of Islam, many men have arisen who claimed to be the Mahdi.

They usually appeared as reformers antagonistic to established authority. One such

man, who became famous in Western history, was Muhammad Ahmad, 1844-85, a

Muslim religious leader in the Anglo-Egyptian Sudan. He declared himself in 1881 to

be the Mahdi and led a war of liberation from the oppressive Egyptian military

occupation. He died soon after capturing Khartoum. In his reform of Islam the

Mahdi forbade the pilgrimage to Mecca and substituted the obligation to serve in the

holy war against unbelievers. His followers, known as Mahdists, for a time made

pilgrimages to his tomb at Omdurman. The final defeat of the Mahdists in 1898 at

Omdurman by an Anglo-Egyptian army under Lord Kitchener gave Great Britain

control of Sudan.1 See P. M. Holt, The Mahdist State in the Sudan (2nd ed. 1970).

Ulasan kita:

1. Umat Islam wajib berhati-hati dengan sikap mereka yang digelar sebagai bijak pandai dan ahli

akademik yang kononnya profesional dalam tugasan masing-masing. Memang mereka diakui

sebagai pakar, tetapi pakar dalam rangka usaha merosakkan Islam dan umat Islam di seluruh

dunia dengan memberikan maklumat yang kurang tepat dan sengaja diputar belit dengan

amat rapi oleh mereka.

2. Mereka sebenarnya berlindung di sebalik nama profesional dan akademik mereka untuk

mengelabui seluruh umat Islam yang lemah ilmu dan kefahaman terhadap agama mereka.

Dengan membuat ulasan separti dua contoh di atas, mereka berharap dapat ‘mengelirukan

umat Islam seramai mungkin, sedangkan uraian dan ulasan separti yang diberikan di atas

amat tidak tepat.

3. Uraian yang diberikan diolah sebegitu rupa untuk mengelirukan orang ramai, terutama yang

bukan Islam terhadap Imam Mahdi orang Islam dan nampaknya dilakukan sedemikian

dengan sengaja. Gambaran separti ini sudah menjadi suatu yang lazim bagi mereka terhadap

agama Islam.

4. Takrifan, uraian dan contoh yang diberikan lebih bersifat menakutkan daripada

menerangkan hal yang sebenarnya. Tokoh yang dipilih oleh mereka sebagai contoh bukanlah

Imam Mahdi sebenar tetapi hanyalah orang yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi.

Jika dinilai dari segi ilmiah, ternyatalah takrifan itu sebenarnya langsung tidak bersifat ilmiah.

5. Pandangan yang diberikan oleh mereka adalah merupakan suatu pandangan serong, yang

nyata amat tidak tepat dengan apa yang sebenarnya. Mereka menulisnya seolah-olah mereka

adalah orang yang amat jahil terhadap persoalan yang diperkatakan.

6. Cara mereka menceritakan mengenai Imam Mahdi itu menjelaskan bahwa hati mereka

sebenarnya amatlah takut. Uraian itu menampakkan ‘ketakutan dalaman’ mereka terhadap

Imam Mahdi, jika beliau benar-benar zahir kelak. Hanya orang-orang yang benar-benar

memahaminya yang dapat menangkap maksud dalaman yang coba disampaikan.

7. Mereka menumpukan kepada Mahdi yang berjaya mereka tumpaskan dengan tujuan

psikologi untuk menyatakan bahwa umat Islam kononnya tidak sekali-kali akan berjaya

mengalahkan kekuatan Barat sekalipun mereka dipimpin oleh seorang pemimpin yang hebat,

sekalipun namanya adalah Imam Mahdi. Dan jika kita baca sekali imbas maklumat

berkenaan, memang terasalah seolah-olah bahwa Imam Mahdi sendiri pun, jika zahir kelak,

tidak akan sekali-kali mampu mengalahkan kuasa Barat yang katanya lebih hebat dan gagah.

8. Memaparkan kejahilan mereka sendiri karena mereka seolah-olah tidak kenal siapa itu Imam

Mahdi sehingga orang yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi pun, sudah dianggap

sebagai Imam Mahdi sebenar. Kisah kejayaan mengalahkan Imam Mahdi itu diperbesarbesarkan

untuk menutup keadaan sebenar mereka.

9. Keadaan ini sebenarnya meyakinkan lagi kita bahwa Imam Mahdi itu memang benar-benar

akan muncul. Jika tidak, masakan orang-orang Barat mau memperkatakan soal ini, jika

perkara itu tidak benar dan tiada asasnya di dalam agama Islam. Mereka seolah-olah takut

benar dengan nama Imam Mahdi itu, bagaikan Imam Mahdi yang dimaksudkan akan

membawa bala bencana terburuk kepada mereka.

Nilailah Sejarah Melalui iman

“Sesungguhnya seorang jurubina tidak akan dapat

mendirikan sesebuah binaan melainkan setelah dia

mengkaji tapak binaan, jenis tanah, mata air dan lainlain.

“Seorang doktor tidak akan mampu memberikan rawatan

yang mujarab melainkan setelah dia bertanya si pesakit

akan puncanya, makanan, minuman dan lain-lain.

“Demikian juga seorang sejarawan tidak dibolehkan

menyebut sesuatu kisah yang sampai kepadanya atau

menghuraikan sesuatu petikan tanpa mengetahui titik

tolak umat ini yaitu akidah dan segala yang terpancar

daripadanya yaitu kefahaman, nilaian dan maksud.

“Ini karena dibimbangi akan memesongkan di belakang

hawa nafsu dan uraian salah yang akan membawa

kepada mengubah sepenuhnya sesuatu keadaan dan

jauh pula daripada kefahaman yang hakiki.”

(Mahmud Syakir, Al-Muntalaqul Asasi fit Tarikhul Islami)

BAHAGIAN 1

Persoalan-persoalan Mengenai Imam Mahdi yang Perlu Diperhatikan

Sebenarnya persoalan Imam Mahdi yang sangat ikhtilaf ini tidak mungkin benar-benar dapat

diselesaikan setiap kali isu ini dibangkitkan kembali oleh mana-mana pihak pun. Persoalan ini

sebenarnya akan semakin bertambah kusut, panjang dan bersimpang siur setiap kali diungkit, apatah

lagi masing-masing mempertahankan pendirian masing-masing dalam keadaan penuh emosi, tanpa

hujah yang benar-benar konkrit dan tidak lebih sifatnya daripada zanni.

Ini dengan mudah dapat difahami karena masalah Imam Mahdi tidak ada di dalam al-

Quranul Karim. Tidak terdapat walau satu ayat pun yang menceritakan tentang Imam Mahdi. Nama

al-Mahdi tidak disebut oleh al-Quran. Sumber yang paling berwibawa yang dapat digunakan oleh

pihak pendakwa hanyalah hadits-hadits, sambil disokong oleh ucapan para sahabat dan dibantu lagi

oleh ucapan para tabiin dan ditambah lagi oleh ijtihad para ulama muktabar.

Perlu pula diingat, mengalasankan ayat al-Quran sebagai hujah untuk menolak kemunculan

Imam Mahdi adalah suatu perbuatan yang agak melampau karena persoalan Imam Mahdi bukanlah

suatu perkara pokok dalam akidah, yang perlu merujuk adanya atau tiadanya kepada al-Quran.

Mereka seolah-olah sudah tiada alasan lain yang boleh digunakan untuk menegakkan hujahnya dalam

menafikan kemunculan Imam Mahdi.

Seolah-olahnya, apabila al-Quran tidak menyebutkan sesuatu perkara itu, maka perkara itu

tidak boleh dibangkitkan langsung. Dan sesiapa yang membangkitkannya, maka dia itu bidaah.

Andaian separti ini nyatalah tidak selari dengan roh dan semangat al-Quran itu sendiri. Persoalan

Imam Mahdi ini sebenarnya adalah termasuk dalam soal-soal agama Islam juga, walaupun tidak

sampai ke taraf akidah. Maka, berpahalalah orang yang membincangkan perkara ini, selagi tidak

sampai melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama kita sendiri.

Malah banyak perkara lain dalam syariat dan akidah kita yang tidak pernah disebutkan di

dalam al-Quran, tetapi diyakini dan diamalkan oleh seluruh umat Islam karena terdapat sebutannya di

dalam satu atau dua buah hadits saja. Malah banyak pula perkara yang langsung tidak disebutkan

oleh hadits-hadits, tetapi kita umat Islam selalu pula membincangkannya. Dan anehnya, tidak terdengar

pula ada orang yang membidaahkannya.

Contohnya, bilangan sembahyang yang lima waktu itu, yang merupakan rukun Islam yang

paling utama pun, tidak ada di dalam al-Quran. Jika al-Quran mau dijadikan alasan juga, kita

sebenarnya hanya perlu bersembahyang tiga waktu saja, dan bukannya lima waktu. Yang lima

waktu itu, hanya terdapat di dalam hadits-hadits.

Selain itu, perlu juga dimaklumi, bahwa di dalam al-Quran tidak pernah menyebutkan

tentang Dajjal yang akan keluar pada akhir zaman nanti. Begitu juga tentang turunnya Nabi Isa AS ke

dunia ini yang akan membunuh Dajjal, tidak pernah disebutkan di dalam al-Quran. Sebenarnya

banyak perkara lain yang tidak disentuh oleh al-Quran tetapi tetap merupakan soal dalam agama kita,

dan diperbincangkan dengan panjang lebar pula. Maka rasanya, tidak salahlah jika kita

membincangkan soal Imam Mahdi ini karena bilangan haditsnya yang sampai kepada kita mencapai

jumlah lebih daripada lima puluh buah.

Pandangan Para Ulama Sepanjang Zaman

Pandangan para ulama yang saleh-saleh sejak zaman awal Islam lagi bukanlah diada-adakan, bukan

pula berupa bidaah atau perkara baru dalam Islam. Pandangan mereka adalah seratus peratus bebas

daripada sebarang pengaruh, sama ada dari pihak berkuasa maupun pihak-pihak yang coba

mengambil kesempatan daripada isu Imam Mahdi ini. Pandangan mereka adalah pandangan Islam

tulen, yang didasarkan sepenuhnya kepada Al-Quranul Karim dan As-Sunnah, oleh mereka yang

bertaraf ulama tulen pula.

Pandangan mereka adalah pandangan yang berasaskan iman yang suci bersih, ilmu yang

mendalam dan keyakinan yang jitu. Pandangan mereka adalah pandangan secara bebas, sesuai

menurut ajaran agama kita. Penulisan kitab-kitab mengenai Imam Mahdi oleh mereka adalah hasil

atau lambang dari keyakinan yang jitu itu tadi. Jika tidak, masakan mereka dapat menulis kitab yang

sebagus dan selengkap yang telah dituliskan oleh mereka itu.

Mereka banyak mengkaji dan mendalami masalah ini sehingga ke umbi-umbinya sekali demi

untuk mendapatkan suatu jawapan yang pasti dan keyakinan yang jitu, tanpa perlu mengikut-ikut

sebarang pendapat orang lain atau dapat dipengaruhi oleh sesiapa pun juga. Hasilnya, pendirian

mereka adalah pendirian yang penuh yakin dan bebas, tanpa dibayangi oleh sebarang pengaruh.

Hasilnya, kita dapati secara keseluruhannya bahwa di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal

Jamaah, terdapat tiga pendapat terbesar mengenai kepercayaan terhadap kemunculan Imam Mahdi

pada akhir zaman kelak. Rumusan ini telahpun dibuat oleh mereka dan dikumpulkan pula oleh ulama

yang kemudian. Golongan pertama adalah para ulama yang percaya dengan sungguh-sungguh akan

kesahihan hadits-hadits mengenai Imam Mahdi itu, sehingga mereka menyatakan dengan tegas sesiapa

yang menolak hadits-hadits tersebut adalah orang yang sesat atau murtad. Kebanyakan mereka adalah

dari kalangan ulama ahli hadits yang cukup tinggi ilmunya.

Sesetengah ahli hadits hari ini menyatakan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan mengenai

datangnya Imam Mahdi adalah hadits mutawatir dan banyak jumlahnya. Para ulama hadits yang mahirmahir

dan mendalam kajiannya serta sudah bertaraf Huffaz, sepakat mengatakan bahwa hadits-hadits

mengenai Imam Mahdi adalah muktamad, dan mempunyai taraf mutawatir maknawi. Ini disebabkan

banyak sumbernya, ramai rawinya dan perkaitan yang amat rapat antara sebuah hadits dengan hadits

yang lain.

Pada penilaian dan kajian mereka yang mendalam itu, setiap rawi yang lemah, akan ada rawi

lain yang lebih kuat yang datang membantu menguatkan sesebuah hadits. Keadaan ini menyebabkan

mereka sukar untuk mengatakan bahwa hadits-hadits mengenai Imam Mahdi itu maudhuk,

disebabkan faktor saling menguatkan antara satu rawi dengan rawi yang lain dan antara sanad yang

bersimpang siur itu. Habis-habis pun, mereka hanya menyatakannya sebagai hadits-hadits dhaif saja.

Antara Huffaz terkenal yang secara yakin, mutlak dan sungguh-sungguh menyatakan

pendapatnya bahwa perkhabaran mengenai Imam Mahdi sebagai benar adalah:

1. Al-Hafiz Abu Husain al-Abiri, yang menyatakan hadits-hadits Imam Mahdi itu sudah tersebar

luas di kalangan orang awam dan di kalangan ahli hadits sendiri, dan disahkan oleh mereka

sebagai mutawatir.

2. Al-Muhaddith Idris al-Iraqi, menyatakannya sebagai mutawatir atau amat hampir kepada

mutawatir, walaupun pendapat pertama tadi disahkan oleh kebanyakan Huffaz.

3. Imam asy-Syaukani menulis, “Kesahihan dapat diperakukan mengenai para rawi yang meriwayatkan

tentang Imam Mahdi, al-Masih Dajjal dan Nabi Isa AS.” Namun beliau dikatakan adalah salah

seorang ulama Syiah.

4. Al-Muhaddith al-Kinnawji, Raja Bhopal di India menyatakan bahwa hadits-hadits mengenai

al-Mahdi sangat banyak dan telah disahkan sebagai mutawatir.

5. Abu Abdullah Jasus, seorang ulama menyatakan berita mengenai al-Mahdi adalah banyak dan

al-Hafiz as-Sakhawi menilainya sebagai telah mencapai darjat mutawatir.

6. As-Syeikh al-Arabi di Fez menyatakan ramalan Nabi SAW mengenai Imam Mahdi itu

memang sebenarnya dan sanadnya juga amat kuat..

7 Sayid Muhammad bin Jaafar al-Kittani menyebutkan nama lebih daripada dua puluh orang

sahabat RA yang meriwayatkan hadits berkenaan Imam Mahdi, yang sanadnya dianggap sahih

oleh beliau.

8 Imamul Allamah Ibnu Hazam menyatakan bahwa hadits-hadits yang menceritakan tentang

keluarnya Imam Mahdi, turunnya Nabi Isa AS dan berita terbitnya matahari pagi dari sebelah

barat adalah hadits-hadits mutawatir.

9 Al-Hafiz Abul Hasan Muhammad Ibnu al-Husain as-Sajistani al-Aburi Asy-Shafie (m.

363/974) yang menyebutkan hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh sebilangan besar ulama

terkenal dan disebarkan secara luas dan yakin oleh terlalu ramai rawi.

10 Grand Muhaddis Syeikh Abdullah bin Sadek, Ph.D., menyatakan bahwa hadits-hadits

mengenai Imam Mahdi adalah bertaraf mutawatir maknawi. Adalah sangat mustahil hadits-hadits

yang telah diiktiraf oleh para Huffaz sebagai mutawatir, masih lagi dianggap dhaif oleh orangorang

yang bukan bertaraf Huffaz.

Selain mereka yang bertaraf Huffaz separti disebutkan di atas, terdapat sebilangan besar lagi

ulama dahulu dan sekarang yang menyatakan secara yakin akan masalah ini. Namun, sebagai

permulaan cukuplah setakat yang diberi di atas. Lagi pun, pendapat mereka mengenainya adalah lebih

kurang saja. Maka, tidak perlulah disalin lagi semuanya.

Oleh karena yang demikian, ada ulama yang secara tegas dan tidak ragu-ragu lagi menyatakan

bahwa hadits-hadits mengenai Imam Mahdi adalah mutawatir dan wajib dipercayai. Antara ulama

yang berpendirian separti ini adalah Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Abu Bakar al-Iskafi dan

Grand Muhaddis Syeikh Abdullah bin Sadek.

Selain itu, menurut mereka lagi, hadits-hadits mengenai Imam Mahdi yang sudah mencapai

taraf mutawatir itu telah melalui proses tapisan separti yang lazim dilakukan terhadap hadits-hadits lain.

Tidak ada pembedaan antara proses tapisan hadits-hadits mengenai Imam Mahdi dengan yang lain,

biarpun persoalan Imam Mahdi itu tidak melibatkan langsung perkara akidah atau persoalan rukun

iman, dan tidak memerlukan proses tapisan yang seketat itu.

Sehubungan itu, adalah dianggap mustahil jika di antara hadits yang telah melalui proses ujian

yang ketat itu, masih tidak terdapat sebuah pun hadits yang bertaraf mutawatir mengenai Imam

Mahdi. Ini memandangkan para perawi hadits-hadits berkenaan adalah antara ulama hadits yang

terkenal separti Imam at-Tarmizi, Imam Abu Daud dan Imam Ahmad bin Hanbal RH.

Golongan kedua adalah ulama yang bersikap sederhana. Golongan yang sebegini adalah

golongan yang paling ramai. Mereka adalah golongan yang mempercayai kemunculan Imam Mahdi,

tetapi tidak memaksakan pendapatnya diterima oleh orang lain. Alasan yang diberikan adalah atas

dasar bahwa persoalan Imam Mahdi adalah masalah furuk akidah, bukan masalah pokok akidah.

Persoalan Imam Mahdi adalah masalah ikhtilaf, dan umat Islam dibenarkan memilih mana-mana satu

pendapat yang disukainya, selagi pendapat itu didasarkan ilmu yang sampai kepadanya, dan selagi

tidak sampai melanggar batas-batas yang sepatutnya.

Mereka tidaklah sampai menyesatkan golongan lain separti yang dilakukan oleh golongan

pertama tadi. Sikap mereka yang berlapang dada ini sebenarnya adalah sikap yang sepatutnya

ditunjukkan oleh para ulama Islam. Seterusnya sikap sebeginilah yang patut diikuti oleh sekalian umat

Islam. Menurut mereka lagi, mempercayai Imam Mahdi tidak sama dengan mempercayai turunnya

rasul kepada manusia.

Imam Mahdi adalah seorang manusia biasa yang bertaraf wali, bukan bertaraf rasul. Oleh

karena Imam Mahdi itu lebih rendah tarafnya daripada rasul, kalau orang mempercayai

kemunculannya atau tidak, pastilah tidak akan menjejaskan akidah dan tidak sekali-kali merosakkan

iman. Seluruh ulama Ahlus Sunnah tidak pernah lagi menjatuhkan hukum syirik, khurafat, bidaah dan

sesat kepada sesiapa atau mana-mana kumpulan yang tidak mau mempercayai kemunculan Imam

Mahdi pada akhir zaman nanti. Hanya di Malaysia saja yaitu pada tahun 1994 dahulu satu-satunya

peristiwa sebuah kumpulan disesatkan karena kepercayaan kumpulan itu kepada kemunculan

seseorang sebagai Imam Mahdi. Selain itu, tidak pernah lagi tercatat di dalam buku sejarah dunia

peristiwa separti itu pernah berlaku.

Golongan ketiga adalah golongan yang menolak terus kepercayaan terhadap Imam Mahdi

dan bermula dari golongan inilah yang menyebabkan umat Islam terpecah-pecah dan berbeda-beda

pendapat mengenai Imam Mahdi, separti yang terdapat pada hari ini. Kita tidak boleh menyalahkan

mereka seratus peratus dalam hal ini, tetapi perlulah diakui pula, salah satu punca terbesar perpecahan

pendapat umat Islam (dalam hal ini) adalah datang dari mereka. Golongan ini ada yang menolak

secara sederhana dengan alasan yang lembut didengar, ada yang menolak dengan agak keras dan

alasan yang masih boleh diterima, dan ada pula yang menolak sama sekali dengan penuh kasar dan

penuh emosi. Maka hilanglah sifat toleransi mereka sehingga menyebabkan mereka terlalu ekstrem

mengenainya.

Penolakan terhadap Imam Mahdi ini boleh dilihat dari dua sudut atau persoalan asas.

Pertama, mereka menolak kemunculan suatu peribadi yang digelar sebagai Imam Mahdi, dan yang

kedua adalah mereka yang menolak hadits-hadits tentang kemunculan Imam Mahdi. Yang menolak

kemunculan peribadi yang bergelar Imam Mahdi itu disebabkan kurangnya kefahaman mereka

terhadap diri Imam Mahdi itu sendiri. Maka karena itu, kedatangan si Mahdi itu ditolak terus.

Masakan boleh Imam Mahdi itu dengan hanya bersendirian saja mampu membaiki seluruh keadaan

dunia yang amat kronik pada hari ini. Mustahillah Imam Mahdi itu mempunyai keupayaan yang jauh

melebihi dari apa pernah diterima oleh Rasulullah SAW sendiri. Demikian fikir mereka, dan itu

jugalah alasan yang mereka beri.

Mereka ini terlalu mengikutkan logik akal sihat mereka itu saja, sehingga lupalah mereka

bahwa akal mereka yang mereka terlalu agung-agungkan itu amatlah terhad sempadan yang mampu

dicapainya. Mereka seolah-olah lupa bahwa akal sebenarnya dipandu oleh al-Quran dan hadits, bukan

akal yang memandu al-Quran dan hadits. Sikap mereka yang demikian seolah-olah meletakkan

kedudukan akal melebihi daripada kedudukan al-Quran dan hadits. Seolah-olah apabila sesuatu itu

tidak dapat dilogikkan oleh akal, maka perkara itu tertolak. Dan itulah dia syariat pada pandangan

mereka. Sikap separti ini sebetulnya adalah melanjutkan sikap dan pegangan Muktazilah, yang pernah

hidup subur pada zaman dahulu. Mereka inilah Muktazilah moden, yang melanjutkan lidah

Muktazilah zaman dahulu, yang pada hari ini sudah kelu lidahnya di dalam lubang kubur masingmasing.

Golongan yang kedua, menolak kemunculan Imam Mahdi karena mengalasankan bahwa

tidak ada sebuah pun hadits yang berkaitan Imam Mahdi itu yang dapat dipegang atau dijadikan hujah

syarak. Mereka terlalu dikongkong oleh kaedah ilmu mustalah hadits yang amat ketat itu, sehingga

pada perkara Imam Mahdi yang hanyalah soal furuk agama pun, dihukumkan separti mereka

menghukum perkara pokok akidah atau pokok syariat. Maka karena itu, tertolaklah perkara Imam

Mahdi ini pada pandangan mereka. Lupalah mereka bahwa soal ini adalah furuk semata-mata, tidak

lebih daripada itu. Itulah akibatnya jika kayu ukur yang digunakan adalah kayu ukur orang lain, yang

jauh berbeda daripada kayu ukur yang sepatutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: