Salahkah Berdoa Disegerakan Kemunculan Imam Mahdi?

Oleh karena masalah ini adalah masalah furuk, juga bersifat masalah khilafiah saja atau

dikatakan sebagai suatu tajuk yang merupakan ijtihad semata-mata, maka sudah pastilah tidak ada

salah dan dosa jika kita memohon kepada Allah SWT agar disegerakan janji-janji Allah itu, demi

maslahat umum umat Islam. Malah sebenarnya, itulah yang sangat dituntut oleh Nabi SAW, sebagai

lambang keprihatinan kita terhadap isyarat-isyarat tersembunyi yang terdapat di dalam hadits-hadits.

Berikut adalah antara alasan yang boleh diberikan yang dapat menyokong pendapat

berkenaan, yang antaranya adalah;

1. Doa adalah salah satu ikhtiar yang Allah berikan kepada manusia dan jin. Doa juga adalah

senjata yang amat mustajab untuk mendapatkan sesuatu pertolongan daripada Allah. Setiap

manusia, khususnya orang-orang mukmin amatlah dituntut oleh agama kita agar berdoa,

karena doa adalah antara ikhtiar yang terbaik. Berikhtiar adalah wajib. Memakbulkannya atau

tidak adalah hak mutlak Tuhan.

2. Manusia dituntut mencari jalan agar mencapai kesejahteraan hidup sama ada di dunia, apatah

lagi di akhirat sana. Imam Mahdi membawa kesejahteraan hidup yang merata, dan hal ini

sudah dijanjikan oleh banyak hadits, daripada yang sahih hinggalah kepada yang dhaif. Tidak

ada keraguan lagi padanya.

3. Manusia wajib mencari pemimpin yang ditunjuk, jika mereka hidup pada awal setiap kurun

Hijrah separti yang disabdakan oleh hadits. Pemimpin yang ditunjuk ini adalah seorang yang

bertaraf mujaddid, bukan sekadar seorang ulama biasa dan bukan pula sekumpulan ulama.

Beliau adalah seorang pemimpin yang sudah dijanjikan untuk manusia, bukan saja secara

umum, malah secara amat khusus dan berulang-ulang pula.

4. Ini adalah janji Allah dan rasul-Nya untuk kita. Tidak salah jika kita menuntut janji Allah itu

untuk kita, sama separti janji-janji-Nya yang lain, sama ada yang berupa balasan di dunia

maupun yang di akhirat.

5. Perbuatan ini adalah termasuk jihad pada jalan Allah karena setiap orang yang membantu

menegakkan Islam di atas muka bumi ini adalah dianggap sebagai mujahid. Dan paling

istimewa, mereka membantu Imam Mahdi menegakkan semula Islam di atas muka bumi ini,

untuk kali yang kedua.

6. Perkhabaran Islam naik semula sudah dijelaskan oleh Nabi SAW dalam banyak hadits.

Maknanya, sesiapa yang berjuang, perjuangannya adalah tepat separti yang disebutkan oleh

hadits. Perjuangannya benar-benar atas landasan agama dan disahkan pula oleh Nabi SAW

sendiri. Siapa yang tidak mau berjuang atas landasan yang benar lagi sahih?

7. Orang-orang dari mazhab lain, terutamanya Syiah telah lama berdoa bersungguh-sungguh

dan amat menanti-nantikan kemunculan Imam Mahdi. Jika golongan Syiah yang salah akidahnya

itu pun boleh sedemikian beria-ia, kenapa kita yang yakin kita adalah benar akidahnya tidak

bersungguh-sungguh separti mereka? Sepatutnya kitalah yang lebih bersungguh-sungguh dan

beria-ia berdoa dan berusaha agar hadits-hadits itu menjadi kenyataan. Kini keadaannya sudah

jadi terbalik. Jangan sampai pula nanti, Imam Mahdi itu keluar ke dunia ini disebabkan oleh

doa orang-orang Syiah itu pula!

8. Kalau tesalah sekali pun, tetap akan mendapat pahala yaitu pahala berdoa dan pahala karena

berusaha. Setiap doa dan setiap usaha akan tetap diberikan pahala biar pun usaha itu gagal

atau tidak didapati oleh kita.

9. Keadaan umat Islam di seluruh dunia pada hari ini yang amat menyedih dan memilukan,

menyebabkan kita amat patut berdoa agar umat Islam yang hanya tinggal namanya saja ini

dapat diselamatkan oleh seorang pemimpin yang sejati, yang dapat membela seluruh umat

Islam, dan melepaskan mereka daripada jerat Barat yang sangat mencengkam ini. Umat Islam

sedang diperkotak-katikkan oleh musuh-musuh lamanya yaitu Kristian, Yahudi, komunis,

nasionalis dan kapitalis, beralasankan sistem sosialis dan demokratik.

Malah al-Quran sendiri memerintahkan kita agar selalu memanjatkan doa agar segera

diturunkan-Nya seorang pemimpin sejati yang akan membela kita umat Islam seluruhnya. Arahan itu

dibuat oleh Allah SWT melalui kisah kaum Bani Israel pada zaman dahulu. Seluruh kaum Bani Israel

pergi mendatangi Nabi Samuel AS memintanya mendoakan kepada Allah agar ditunjukkan kepada

mereka seorang pemimpin yang akan membela dan membantu mereka mengalahkan kekejaman Raja

Jalut. Hasil daripada doa mereka itu, Allah tunjukkan kepada mereka Talut, seorang petani yang

tinggal di pedalaman. Maka, salahkah kita turut sama mendoakan agar pemimpin sejati itu segera Dia

munculkan? Tidak bolehkah kita hanya mengikut apa yang sudah ditunjukkan oleh al-Quran sendiri?

Bagi mana-mana umat Islam yang amat prihatin terhadap keadaan umat Islam pada hari ini,

tahu benar peri pentingnya kemunculan seorang pemimpin yang boleh membawa seluruh umat Islam

kembali kepada Tuhan dan mencapai kemuncak kejayaan, pastilah sangat menanti-nantikan

kemunculan pemimpin berkenaan dan tidak akan henti-henti mendoakan agar kemunculannya segera

berlaku, pada kurun ini.

Begitu juga sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW, beberapa tanda sudah kelihatan dan

jelas pada pandangan orang-orang yang tahu dari kalangan pendeta Yahudi dan pendeta Kristian.

Namun, semakin dekat dengan masa diutuskan baginda SAW, semakin galak mereka mendoakan agar

pemimpin akhir zaman itu (Nabi Muhammad SAW) segera dibangkitkan. Sayangnya, mereka

mendoakan agar Nabi Muhammad SAW itu lahir dari kalangan bangsa mereka. Apabila Nabi

Muhammad SAW itu lahir dari celah-celah bangsa Arab, mereka terus menolaknya dengan alasan

baginda SAW bukan dari kalangan bangsa mereka.

Namun, pengajaran daripada kisah ini ialah tidak salah jika kita mendoakan agar pemimpin

akhir zaman ini segera dibangkitkan oleh Allah SWT. Hanya itulah satu-satunya cara untuk

memulihkan keadaan umat Islam ini seluruhnya yang sedang amat hina dan lekeh pada pandangan

seluruh dunia. Kita hina di mana-mana saja kita berada karena kita ibarat anak yatim yang tiada

beribu dan berbapa atau separti sang musafir yang sesat, tiada tempat hendak mengadu masalah yang

sedang dihadapi.

Maka jelaslah di sini bahwa tidak ada salahnya jika kita berdoa agar Imam Mahdi itu segera

dibangkitkan-Nya untuk kita seluruhnya, bukan untuk kita seorang saja atau hanya untuk kumpulan

kita saja. Kalaulah doa kita dimakbulkan oleh Allah SWT, maka bayangkanlah betapa besar pahala

yang akan kita dapat karena telah membantu seluruh umat Islam di seluruh dunia daripada segala

masalah dan penindasan yang sedang mereka terima ini. Berdoa agar Imam Mahdi muncul tidak

memerlukan apa-apa modal, sedangkan balasannya cukup-cukup besar, tidak termakan dek kita

seorang di akhirat nanti. Maka, sepatutnya kita berdoalah banyak-banyak dan sentiasa berharap agar

segera ditunaikan-Nya akan segala janji-Nya itu, pada zaman kita ini. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Sahihkah Hadits-hadits Itu?

Masalah inilah yang sebenarnya menghantui pemikiran, pendapat, kepercayaan dan sikap

umat Islam umumnya pada hari ini. Bukan saja di negara kita Malaysia, malah di seluruh dunia

Islam amnya, sejak zaman dahulu lagi hinggalah ke hari ini, tidak kira apa mazhab pun, masalah ini

tetap sama saja.

Jika ada mana-mana ulama atau orang perseorangan yang coba membangkitkan masalah yang

cukup khilafiah ini, reaksi-reaksi berikut akan dapat dilihat pada orang yang kita ajukan itu.

1. Menolak serta-merta. Alasan yang diberikannya ialah hadits-hadits mengenai Imam Mahdi

adalah hadits palsu atau sangat dhaif. Mereka ini lazimnya tidak mengetahui ilmu sanad dan rawi

hadits, ilmu jarah dan ta’dil serta tingkatan-tingkatan hadits.

2. Menolak mentah-mentah serta memandang rendah orang yang menimbulkan masalah ini,

karena katanya mempercayai perkara yang tidak jelas dalam masalah agama. Mereka ini adalah

golongan yang banyak dipengaruhi oleh corak pemikiran yang telah diacu oleh pihak penjajah

sejak dahulu.

3. Menolak sebahagian hadits yang berkaitan dengan Imam Mahdi termasuk mengenai Pemuda

Tamim, Pemuda Bani Hasyim, Al-Haris Harras dan lain-lain. Hadits-hadits yang ada kelihatan

hanya sesuai untuk zaman dahulu saja, bukan pada zaman ini. Mereka ini hanya menilai hadits

berdasarkan maksud zahirnya saja, bukan makna yang tersirat yang ada di sebalik hadits-hadits

berkenaan.

4. Menolak dengan alasan menunggu ketibaan Imam Mahdi tanpa berusaha adalah perbuatan

yang sia-sia. Lebih baik umat Islam bangun dan membina kekuatan sendiri dan menegakkan

negara Islamnya sendiri tanpa perlu menunggu munculnya Imam Mahdi. Konsep Al-Mahdi itu

sebenarnya ada di dalam diri setiap umat Islam dan Mahdi itu adalah sekumpulan umat Islam

sendiri yang berusaha membawa kemajuan. Mereka yang berpendapat begini adalah dari

kalangan cendekiawan Islam dan para sarjana Islam yang mengaji di universiti luar negeri,

terutama di negara Barat.

5. Menolak dengan alasan sudah lebih seribu tahun, namun Imam Mahdi tidak juga muncul, dan

kemungkinannya tidak akan muncul lagi ke dunia ini. Lagipun ini adalah zaman moden,

bagaimana Imam Mahdi itu akan muncul pada zaman moden ini? Takkan Imam Mahdi itu

nanti naik kuda dan mengacungkan pedang? Inikan zaman moden, tak sesuai sangatlah

keadaannya nanti. Mereka ini banyak dipengaruhi oleh logik akal mentah mereka yang pendek

semata-mata, tanpa mengetahui bahwa hadits-hadits berkenaan mempunyai maksud tersirat

yang sekali-kali tidak mereka ketahui.

6. Bersikap berdiam diri karena memang tidak tahu dan tidak pernah ambil tahu. Mereka

adalah dari kalangan orang awam yang tidak mendapat pengetahuan yang mencukupi mengenai

persoalan agama, apatah lagi masalah Imam Mahdi yang khilafiah ini. Mereka serba salah

hendak menjawab soalan ini.

7. Tidak menerima dan tidak pula menolak kemunculan Imam Mahdi sambil menyatakan

pendiriannya bahwa semua itu mungkin saja ada dan mungkin saja tidak ada. Bersikap

pertengahan adalah lebih selamat bagi mereka dan golongan separti ini memang ramai pada

masa ini.

8. Tidak menolak sepenuhnya, yakni menerima konsep Mahdi tetapi menyatakan bahwa

Mahdi itu sebenarnya adalah umat Islam itu sendiri. Oleh itu, mereka perlu bangun dan

membina kekuatan ummah melalui jalan politik dan ekonomi, serta dihiasi oleh akhlak yang

mulia. Kebanyakan mereka ini adalah golongan pentadbir, ahli politik, teknokrat Islam dan ahli

ekonomi Islam yang mendapat pendidikan formal dari Barat.

9. Menerima konsep Mahdi tetapi bertanya semula, bilakah Imam Mahdi itu akan muncul. Siapa

dia Imam Mahdi itu? Sejauh mana ‘modennya’ Imam Mahdi itu nanti? Mereka ini adalah

golongan yang banyak tanya tetapi tidak dapat memikirkan lebih jauh daripada itu.

10. Menerima sepenuhnya, tetapi berbeda pendapat mengenai diri Imam Mahdi itu yang jika

dilihat menurut kaedah Ahlus Sunnah adalah tidak tepat sama sekali. Mereka ini adalah

golongan yang coba mengambil kesempatan daripada sesuatu keadaan atau ada niat yang lain.

11. Menerima sepenuhnya konsep Imam Mahdi, meyakini semua hadits yang berkaitan

dengannya dan menanti-nanti kemunculan Imam Mahdi itu ke dunia ini, dengan penuh harap,

penuh kerinduan, penuh kasih sayang, penuh gembira dan kadang-kala separti tidak sabar

menunggu lebih lama lagi. Mereka ini ada dua golongan yang besar yaitu Ahlus Sunnah wal

Jamaah dengan Imam Mahdinya sendiri dan golongan Syiah dengan Imam Mahdinya pula, yang

jauh berbeda keperibadiannya daripada Imam Mahdi Ahlus Sunnah.

12. Golongan yang terpinga-pinga untuk menjawab karena tidak pernah tahu dan tidak pernah

ambil tahu. Mereka adalah golongan majoriti orang awam dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Hal ini berbeda dengan Syiah yang amat mengajarkan kepada golongannya akan konsep Imam

Mahdi ini. Antara sebabnya ialah Ahlus Sunnah tidak pernah menekankan peri pentingnya

Imam Mahdi itu kepada masa depan dan survival umat Islam, separti yang Syiah ajarkan

kepada pengikut mereka.

Kemudian, jika kita lihat dengan lebih teliti dan saksama (jika orang itu memang mau mencari

kebenaran hakiki), akan kita dapati bahwa hadits-hadits yang menceritakan mengenai Imam Mahdi

dapat dikategorikan kepada tiga bahagian, yaitu hadits-hadits yang sahih, hadits-hadits yang hasan dan

hadits-hadits yang dhaif. Maka yang maudhuk itu tidaklah kita masukkan ke dalam perbicaraan kita ini.

Semua ulama kenamaan dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah bersetuju bahwa haditshadits

sahih mengenai Imam Mahdi adalah hadits yang sudah boleh dikategorikan sebagai hadits

mutawatir maknawi. Hadits mutawatir maknawi adalah sekumpulan besar hadits yang berbagai-bagai

matan, rawi dan sanadnya, tetapi semua hadits berkenaan menceritakan satu perkara atau mauduk

yang sama yaitu mengenai Imam Mahdi.

Imam an-Nawawi, seorang tokoh ulama terkenal dalam mazhab Syafie dan juga seorang

pakar hadits pada zamannya berkata,

Beberapa buah hadits yang tersebut ini, walaupun semua sanadnya dhaif, tetapi karena satu sama

lain saling menguatkan, maka hadits-hadits ini menjadi hadits hasan. Dan hadits yang demikian ini

boleh digunapakai sebagai hujah. Pendapat yang separti ini pada zaman lampau telah

dikemukakan oleh Imam al-Baihaqi dan ulama-ulama lain. Sebenarnya nilai kedhaifan hadits

berkenaan terletak pada buruknya hafazan, atau tercampur-campurnya hafazan, atau adanya

pemalsuan, tetapi rawi-rawinya adalah orang-orang yang jujur dan taat melaksanakan perintah

agama. Adapun hadits yang dhaif karena adanya pendustaan atau menyalahi hadits-hadits yang

lain, maka yang demikian itu tidaklah dapat lagi diangkat tarafnya menjadi hadits hasan.”

Grand Muhaddis Abdullah bin Sadek, Ph.D., menyatakan di dalam bukunya, Al-

Mahdiyul Muntazar, kira-kira begini:

“Malang sekali, terdapat ramai orang, termasuk yang berpengetahuan percaya bahwa tidak ada

al-Mahdi. Ini sebenarnya disebabkan kejahilan mereka terhadap sabda-sabda Nabi SAW yang

menyatakan kemunculannya pada akhir zaman nanti.”

Tulisnya lagi pada bahagian Pengenalan bukunya itu,

Adalah sangat mustahil hadits-hadits (mengenai Al-Mahdi) yang telah disahkan sebagai

mutawatir oleh Al-Huffaz, (masih) boleh lagi dikatakan palsu (oleh orang ramai).”

Kalangan yang belajar ilmu mustalah hadits amat memahami dan mengakui betapa benarnya

ucapan Hafiz kenamaan ini. Tidak ada keraguan lagi padanya.

Hadits-hadits yang Diakui Sebagai Sahih

Bagaimanapun, sebagai memenuhi rasa ingin tahu kebanyakan umat Islam, terutama yang rajin

mengkaji dan yang inginkan kepastian, serta yang inginkan keyakinan yang putus, berikut adalah

antara hadits yang secara jelas dikategorikan oleh semua ulama hadits sebagai hadits sahih mengenai

diri Imam Mahdi itu:

A. Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Dunia ini tidak akan hancur sehingga seorang lelaki dari kalangan ahli keluargaku, yang

namanya separti namaku, memerintah seluruh bangsa Arab.” (Sunan

at-Tarmizi, Jilid 9; Sunan Abu Daud, Jilid 5).

Hadits-hadits dengan matan yang hampir serupa juga turut diriwayatkan daripada

Sayidina Ali bin Abi Talib, Abu Said al-Khudri, Ummu Salamah dan Abu Hurairah

RA.

B. Nabi SAW bersabda,

“Allah akan mengeluarkan dari persembunyiannya al-Mahdi (yaitu) dari kalangan kaum

keluargaku sejurus sebelum hari kiamat walaupun kiamat itu cuma tinggal sehari saja. Dia

akan menyebarkan keadilan dan kesaksamaan di atas muka bumi ini dan menghapuskan

kezaliman dan penindasan.” (Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, Jilid 1)

C. Sayidina Ali bin Abi Talib KMW berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Jika cuma tinggal sehari saja sebelum kiamat tiba, nescaya Allah pasti akan mengutuskan

seorang lelaki dari kaum keluargaku yang akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan

kesaksamaan, separti sebelumnya bumi ini dipenuhi dengan penindasan.”

(Sunan Abu Daud)

D. Sayidina Ali bin Abi Talib KMW berkata bahwa Nabi SAW memberitahunya bahwa,

“Al-Mahdi yang dinanti-nantikan itu adalah dari kaum keluargaku. Allah akan

menyempurnakannya dalam satu malam saja.”

(Sunan Ibnu Majah, Jilid 2)

E. Sayidatina Ummu Salamah RA, Ummul Mukminin, berkata bahwa Nabi SAW bersabda,

“Al-Mahdi itu adalah dari keturunanku, daripada anak-anak Fatimah.”

(Sunan Abu Daud, Jilid 2; Sunan Ibnu Majah, Jilid 2)

F. Rasulullah SAW mengisytiharkan bahwa,

“Al-Mahdi itu adalah dari kaum keluargaku, daripada keturunan Fatimah.”

(Sunan Ibnu Majah, Jilid 2, Hadits No. 4086)

G. Nabi SAW memberitahu,

“Al-Mahdi itu adalah salah seorang daripada kami, dari kalangan Ahlulbait.”

(Sunan Ibnu Majah, Jilid 2, Hadits No. 4085)

H. Abu Said al-Khudri RA menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Al-Mahdi itu dahinya luas dan hidungnya mancung. Dia akan memenuhkan bumi ini dengan

keadilan separti sebelumnya bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan. Dia akan

memerintah selama tujuh tahun.”

(Sunan Abu Daud, Jilid 2, Bab Fusulul Muhimmah)

I. Abu Said al-Khudri RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Al-Mahdi adalah dari keturunanku. Dahinya luas dan hidungnya tinggi. Dia akan

memenuhkan bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan ketika dunia sedang dipenuhi dengan

penindasan. Dia akan memerintah selama tujuh tahun.”

J. Ummu Salamah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Selepas kemangkatan seorang amir, akan berlaku pertelingkahan di kalangan penduduk. Ketika

itu seorang penduduk Madinah akan melarikan diri dan pergi ke Makkah. Ketika di Makkah,

beberapa orang penduduk akan menghampirinya antara Hajarul Aswad dengan Maqam Ibrahim,

dan mendesak menerima baiat mereka kepadanya.

Sejurus selepas itu, satu angkatan yang besar akan datang dari Syam untuk menyerangnya tetapi

ketika mereka sampai di al-Baidak, yang di antara Makkah dan Madinah, mereka akan

ditelan ke dalam bumi.

Melihatkan peristiwa ini, golongan Abdal dari Syam dan sekumpulan Asoib dari Iraq akan

mendatanginya dan berbaiat kepadanya. Kemudian seorang lelaki dari suku Quraisy, yang bapa

saudaranya dari Bani Kalb mengantar satu pasukan tentara untuk menyerang al-Mahdi, dan

coba menguasainya, dengan izin Allah. Tentara ini adalah dari Bani Kalb. Malangnya dia tidak

menerima apa-apa perkongsian dengan Kalb. Orang ini (Imam Mahdi) akan memulakan

peperangan selepas pertempuran itu. Dia akan memimpin orang ramai berdasarkan Sunnah dan

masa pemerintahannya, Islam akan tersebar ke seluruh dunia. Dia memerintah selama tujuh

tahun. Al-Mahdi akan meninggal dunia dan jenazahnya akan disembahyangkan oleh seluruh

umat Islam di seluruh dunia.”

(Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban & at-Tabrani)

K. Nabi SAW bersabda:

“Sekumpulan orang dari umatku akan berjuang menegakkan kebenaran sehingga hampir tibanya

kiamat, apabila Isa anak Mariam AS turun, dan pemimpin mereka memintanya mengimamkan

sembahyang, tetapi Isa AS menolaknya sambil berkata, “Tidak, sesungguhnya di kalangan

kamu ada orang yang Allah telah jadikannya pemimpin ke atas yang lain dan Dia telah

menzahirkannya untuk mereka.” (Sahih Muslim)

L. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW telah bersabda:

“Apakah reaksi kamu semua apabila Isa anak Mariam turun sedangkan Imam kamu adalah

daripada kalangan kamu?”

(Sahih Muslim, bab Nuzul Isa, Jilid 2; Sahih al-Bukhari, Kitab Bad’ ul-Khalq wa Nuzul

Isa, Jilid 4)

M. Nabi SAW bersabda:

“Apakah keadaan kamu jika anak Mariam turun di kalangan kamu dan Imam kamu adalah

dari kalangan kamu?” (Sahih Al-Bukhari, Kitabul

Anbiyak, Bab Nuzul Isa bin Maryam)

N. Diriwayatkan daripada Jabir bin Samurah RA katanya, Rasulullah SAW bersabda:

“Setelah peninggalanku nanti akan ada dua belas orang Amir (Khalifah).” Jabir berkata,

“Kemudian baginda bercakap sesuatu yang tidak kufahami, lalu aku bertanya kepada bapaku,

lalu dia berkata, “Mereka semuanya dari golongan Quraisy.”

(Abu Daud)

O. Dari Mustaurid Al-Qurasyi RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Kiamat akan tiba (setelah) bangsa Rom membentuk sebahagian besar dari umat.” Amru

bertanya kepadanya (Mustaurid RA), “Benarkah ucapanmu itu?” Jawabnya, “Aku

mengucapkan apa yang aku dengar daripada Nabi SAW,” dan lagi sabdanya, “Kalau kamu

menyebutkan demikian, sungguh mereka telah memiliki empat sifat. Pertama, mereka mempunyai

kesabaran menempuh cobaan. Kedua, segera membaiki diri untuk pulih selepas kesusahan. Ketiga,

menyerang balas selepas peperangan pertama dan keempat, mereka bersikap baik terhadap jandajanda,

anak-anak yatim, yang lemah. Dan yang kelimanya ialah mereka bersikap baik dan

mendiamkan diri saja terhadap penindasan oleh raja-raja.”

P. Dari Abdullah bin Busri RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“(Jarak masa) antara Malhamatul Uzma (Perang Islam-Eropah) dan penaklukan kota-kotanya

adalah enam tahun dan Dajjal akan keluar pada tahun yang ketujuh.”

(Ibnu Majah)

Q. Kata Abu Nadrah RH, kami bersama-sama dengan Jabir bin Abdullah RA, lalu dia berkata:

Akan terjadi penduduk Iraq tidak mengantar bahan makanan dan dirham mereka.” Kami

bertanya, “Dari arah mana?” Jawabnya, “Dari arah bukan Arab, yang menahannya.”

Kemudian dia berkata lagi, “Aku syak bahwa penduduk Syam juga tidak mengantar dinar

dan mud mereka.” Kami bertanya, “Dari arah mana datangnya?” Jawabnya, “Dari arah

Rom.” Kemudian dia diam seketika, kemudian berkata, “Telah bersabda Nabi SAW,

Akan berlaku pada akhir zaman seorang khalifah yang menyebarkan harta

sebanyak-banyaknya tanpa mengira-ngiranya.” Aku bertanya kepada Abu

Nadrah dan Abu al-A’ala, “Kami menyangka dia itu adalah Umar bin Abdul Aziz.”

Jawabnya, “Bukan.” (Muslim)

R. Daripada Sauban RA katanya, Rasulullah SAW bersabda:

“Akan berbunuh-bunuhan dekat tempat simpanan Kaabah kamu tiga beradik, semuanya putera

kepada seorang (bekas) khalifah. Kemudian tidak seorang pun antara mereka yang dapat (harta

itu atau menjadi khalifah). Kemudian muncul Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, lalu

mereka membunuh kamu dengan satu pembunuhan (yang paling dahsyat) yang belum pernah

dilakukan oleh mana-mana kaum pun. Apabila kamu semua melihatnya, hendaklah bersegera

membaiatnya walaupun terpaksa merangkak di atas salji, karena padanya ada Khalifah Allah,

Al-Mahdi.”

(Ibnu Majah)

Ada banyak lagi hadits yang sanadnya sahih-sahih belaka tetapi penulis tidak merasakan perlu

dimasukkan semua sekali. Cukuplah sekadar yang ada ini untuk perhatian kita bersama. Oleh karena

banyaknya hadits mengenai Imam Mahdi yang dikategorikan sebagai sahih, seyogialah orang-orang

yang menolak mengenai kedatangan Imam Mahdi, sama ada yang menolak dengan alasan bahwa

hadits-haditsnya banyak yang dhaif, atau menolak peribadi yang bergelar Imam Mahdi itu akan keluar,

eloklah berfikir semula.

Hadits-hadits di atas yang semuanya telah diakui sebagai sahih, menunjukkan dengan jelas

bahwa cerita-cerita mengenai Imam Mahdi itu mempunyai asas yang kukuh dalam agama kita, bukan

sekadar diada-adakan atau berita yang muncul kemudian, beratus-ratus tahun selepas kewafatan Nabi

SAW. Ini karena, Rasulullah SAW sendiri turut menyebutkan mengenainya, antaranya separti yang

dinyatakan di atas.

Hadits-hadits yang Diakui Sebagai Hasan

Hadits-hadits berikut adalah hadits-hadits yang dikatakan tarafnya hasan yaitu rendah sedikit

daripada taraf hadits sahih. Hadits-hadits ini dikatakan hasan karena para rawinya mempunyai sedikit

kecacatan yaitu dari segi kekuatan ingatannya. Namun, hadits-haditsnya tetap boleh diterima karena

peribadi rawi-rawinya adalah baik dan jelas.

A. Ummu Salamah RA, Ummul Mukminin, meriwayatkan sebuah hadits daripada Nabi SAW:

“Al-Mahdi adalah daripada keturunanku, di antara anak-anak Fatimah.”

B. Rasullullah SAW bersabda:

“Dunia ini tidak akan berakhir sehingga seorang lelaki dari keturunan al-Husain mengambil alih

pentadbiran dunia dan memenuhnya dengan keadilan dan kesaksamaan separti sebelumnya

dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan.”

C. Abu Said al-Khudri RA menceritakan sebuah hadits bahwa Nabi SAW mengisytiharkan:

“Dunia ini akan dipenuhi dengan ketidakadilan dan penyelewengan. Ketika itulah, seorang lelaki

dari kaum keluargaku akan naik dan memerintah selama tujuh atau sembilan tahun dan akan

memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan.”

(Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 3)

D. Abu Said al-Khudri RA menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Banyak cobaan dan bala bencana akan menimpa umatku daripada pemerintah mereka sebelum

dunia ini kiamat. Akan berlaku satu bencana yang sememangnya tidak dapat dielakkan lagi.

Terdapat banyak kezaliman yaitu dunia ini dipenuhi ketidakadilan dan penyelewengan yang akan

memusnahkan kebaikan. Orang-orang yang beriman tidak mendapat pembelaan daripada

penindasan yang berlaku itu. Pada ketika itulah Allah akan mengantar seorang lelaki daripada

keturunanku untuk memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan separti sebelumnya

dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan. Seluruh penduduk langit dan bumi akan meredhai

pemerintahannya. Bumi akan mengeluarkan segala isinya, dan langit pula akan menurunkan

hujan selebat-lebatnya. Dia akan tinggal bersama-sama mereka selama tujuh atau sembilan tahun.

Segala keberkatan dan kemakmuran akan Allah turunkan kepada bumi, sehingga mereka yang

masih hidup amat mengharapkan agar orang yang telah mati dapat hidup semula.”

(Ibnu Hajar, as-Sawa’iqul Muharriqah, ms 161)

E. Abu Hurairah RA berkata, dari Rasulullah SAW:

“Orang ramai akan berbaiat kepada al-Mahdi antara Rukun dengan Maqam (di Makkah).”

(Ibnu Tawus, Kitabul Malahim wal Fitan, ms 64)

F. Daripada Abdullah RA daripada Nabi SAW sabdanya:

“Kalaulah tidak tinggal bagi dunia ini melainkan sehari saja lagi, nescaya akan dipanjangkan

oleh Allah hari itu sehingga dibangkitkan padanya seorang lelaki dari umatku atau dari ahli

keluargaku yang sama namanya separti namaku dan nama ayahnya separti nama ayahku.”

(At- Tarmizi)

G. Dari Huzaifah RA katanya, Nabi SAW bersabda:

“Kalaulah tidak tinggal daripada umur dunia melainkan sehari saja lagi, akan dipanjangkan

oleh Allah hari itu sehingga didatangkannya seorang lelaki dari ahli keluargaku, yang berdiri

malaikat di antara dua tangannya dan dia akan mengembangkan agama Islam.”

Sebenarnya, hadits yang telah disahkan tarafnya sebagai hasan juga sangat banyak, tetapi oleh

karena dirasakan tidak perlu mengulang-ulang tulis hadits berkenaan untuk bahagian seterusnya,

tidaklah dimasukkan lebih banyak lagi untuk mengelakkan rasa jemu membacanya.

Oleh karena banyak pula hadits yang sampai tarafnya kepada hasan, maka tidak syak lagilah

bahwa memang kisah Imam Mahdi itu tidaklah diada-adakan. Banyaknya hadits yang bertaraf hasan

amat jelas membantu menguatkan lagi hadits yang dikatakan dhaif, juga menguatkan dakwaan bahwa

kisah mengenai kedatangan Imam Mahdi adalah benar lagi sahih.

Adapun hadits-hadits yang dikatakan mutawatir, yaitu taraf hadits yang paling tinggi selepas al-

Quran, adalah banyak sekali. Jumlahnya lebih banyak daripada yang diberikan tadi, yaitu lebih banyak

daripada hadits yang sampai kepada taraf sahih. Bedanya, kebanyakan hadits itu adalah berbentuk

mutawatir maknawi, yaitu sejumlah besar hadits yang sama maksud tetapi berbeda-beda dari segi

susunan matannya.

Selepas hadits mutawatir, hadits sahih adalah hadits yang dikategorikan paling tinggi, karena

telah melepasi lima syarat untuk menjadi hadits sahih. Mana-mana hadits yang dapat memenuhi

kelima-lima syarat itu sekali gus, barulah diiktiraf sebagai hadits sahih. Separti yang dimaklumi, hadits

sahih terbahagi kepada dua jenis yaitu sahih lizatih (mencapai taraf sahih tanpa bantuan hadits lain)

dan sahih lighairih (mencapai taraf sahih dengan bantuan hadits lain yang sama kuat dengannya).

Lazim pula para ulama menyatakan bahwa hadits yang disebut sebagai sahih lighairih adalah

juga hadits hasan lizatih. Dan separti yang dimaklumi, hadits sahih adalah hadits yang mencapai taraf

paling tinggi, boleh dijadikan hujah dalam bab akidah dan hukum syarak.

Hadits-hadits yang Dikatakan Sebagai Dhaif

Hadits-hadits berikut telah dikenal pasti dan dikatakan sebagai hadits dhaif oleh sebahagian

ulama walaupun diterima pula oleh sebahagian besar ulama hadits yang lain. Walau apa pun, jika

dikumpulkan semua sekali hadits berkenaan, dapatlah dikatakan dari segi maksudnya, semua yang

dikatakan dhaif ini membawa maksud yang satu.

Marilah pula kita lihat sebahagian daripada hadits berkenaan, untuk partimbangan atau

tasawur awal kita.

A. Ammar bin Yasir RA menceritakan:

“Apabila Nafsuz Zakiyah telah terbunuh, satu suara dari arah langit akan menyeru:

‘Pemimpin kamu semua adalah si anu dan si anu.’ (yaitu al-Mahdi dan Pemuda

Bani Tamim). Berikutan itu, al-Mahdi akan muncul dan akan memenuhkan bumi ini dengan

keadilan dan kesaksamaan.”

(Ibnu Tawus, Kitabul Malahim wal Fitan, ms 179)

B. Abdullah bin Umar RA mendengar ada seorang Arab menyebutkan di hadapannya bahwa al-

Mahdi itu adalah Muawiyah bin Abu Sufian. Abdullah RA berkata:

“Itu bukanlah separti yang kamu kata. Al-Mahdi adalah orang yang Nabi Isa bersembahyang di

belakangnya.”

(Ibnu Tawus, Kitabul Malahim wal Fitan, ms 179)

C. Mujahid RA menyatakan mengenai Mahdi:

“Seorang sahabat Nabi SAW memberitahuku bahwa al-Mahdi tidak akan muncul sehinggalah

Nafsuz Zakiyah mati dibunuh. Pada ketika itulah dia akan mengambil alih pemerintahan dan

akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan.” (Ibnu

Tawus, Kitab al-Malahim wal Fitan, ms 171)

D. Seorang tabiin bernama Salmah bin Zafar RH meriwayatkan bahwa pada suatu hari orang ramai

sedang berbincang mengenai kemunculan al-Mahdi di hadapan Huzaifah RA. Huzaifah berkata:

“Kalaulah al-Mahdi itu zahir ketika kamu masih dekat dengan zaman kenabian, dan ketika

sahabat-sahabat baginda masih hidup di kalangan kamu, maka kamu benar-benar beruntung.

Tetapi tidaklah demikian halnya. Al-Mahdi tidak akan zahir sehinggalah manusia dikelilingi

oleh penindasan dan kekejaman, dan tidak seorang pun yang lebih dikasihi dan diharapkan (oleh

mereka) melebihi daripadanya.”

(Kitab Al-Hawi Lil Fatawa, Jilid 2, ms 159)

E. Abu Ishak memberitahu bahwa Sayidina Ali KMW ketika memandang anaknya al-Hasan RA,

berkata:

“Anakku ini adalah seorang Sayid, separti yang Nabi SAW menamakan dia. Daripada

keturunannyalah akan muncul seorang lelaki yang namanya separti nama Nabi kamu. Dia akan

menyerupai Nabi kamu dari segi akhlak tetapi tidak dari segi rupa.” Kemudian dia menyebutkan

riwayat bahwa bumi ini akan dipenuhi dengan keadilan (masa pemerintahannya).

(Abu Daud)

Jika kita perhatikan baik-baik kandungan hadits-hadits yang dikatakan sebagai dhaif ini, kita

akan dapati bahwa yang sebenarnya dhaif itu adalah rawinya dan juga sanad yang kurang

memuaskan. Maksudnya, hadits-hadits itu dikatakan dhaif karena rawi yang tidak memenuhi salah satu

dari lima syarat untuk menjadi sahih, bukan kandungan hadits berkenaan. Kalaulah isi kandungan

hadits berkenaan yang dijadikan ukuran sahih atau tidak, ternyata bahwa hadits-hadits berkenaan

sebenarnya adalah sahih karena apa yang diperkatakan oleh hadits tersebut memang telah benar-benar

berlaku.

Hanya karena para ulama mengikut dengan ketat disiplin ilmu Jarah wat Ta’dil yang telah

ditetapkan, maka hadits-hadits berkenaan terpaksa dimasukkan ke dalam golongan hadits dhaif, yaitu

dhaif dari segi rawi dan sanad saja, bukan kandungan hadits berkenaan.

Memang diakui bahwa hadits-hadits yang dikategorikan sebagai dhaif sangatlah banyak, jauh

lebih banyak daripada jumlah hadits yang disahkan sebagai sahih dan hasan. Yang disertakan di sini

hanyalah sekadar contoh daripada beberapa buah yang memang telah sedia masyhur di kalangan

orang ramai sejak dahulu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: