Kanjeng Ratu Kidul [kadita]

Kisah Kanjeng Ratu Kidul (Dewi Srengenge)

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun

dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak

dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia

selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun

kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut.

Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar

keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta

agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat

menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada

putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum

dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia

tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk

memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin

tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku

akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun

menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis

dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi

dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib

untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak

wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi

semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu

akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak

menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa

menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak

dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam

kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam

menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan.

Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang

airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air

Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada

tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik

daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi

Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu

Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran,

Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan

Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang

cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan

bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida

mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa

dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran

menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi

seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan

diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan

kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu

Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari

rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga

akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu

Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian

dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan

Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul,

atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan

versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda,

tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling

benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.

Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta

Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu

Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan

kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin

dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap

menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata,

bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta.

Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum

dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan

seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat

adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan

keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka

memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut

masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka

penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus,

maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi,

penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah

yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari

Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan

dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk

halus” tersebut.

Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah

satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat

oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk

mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan

misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan

Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut

perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan

masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari

dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang

Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari

(Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang

dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan

Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh

pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah

satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis,

maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh

saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang

disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati,

penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan,

keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta

dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya

Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan

mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral

di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari

penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin

Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang

Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda

pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas

Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul.

Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus

melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan

kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi

Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika

anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa

mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu

orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah

sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia

tuangkan dalam sebuah lukisan.

(II) Kanjeng Ratu Kidul atau yi Roro Kidul?

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun

dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak

dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia

selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun

kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut.

Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar

keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta

agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. �Sangat

menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada

putriku�, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum

dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia

tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk

memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. �Aku ingin

tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku

akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.� Sang dukun

menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis

dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi

dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib

untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak

wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi

semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. �Puterimu

akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,� kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak

menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa

menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak

dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam

kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam

menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan.

Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang

airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air

Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada

tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik

daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi

Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu

Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan

Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia

menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita

muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata

merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda,

Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai

selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika

keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia

akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2,

mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya

mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian

Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam

dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah

airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat

itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan

sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo

dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul,

atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan

versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda,

tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling

benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.

(III) Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta

Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu

Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan

kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka

yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih

tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata,

bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta.

Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum

dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan

seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat

adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan

keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka

memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut

masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka

penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus,

maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi,

penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan

inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut

mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan

keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan

�makhluk-makhluk halus� tersebut.

Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah

satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat

oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk

mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan

misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan

Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut

perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan

masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari

dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang

Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari

(Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang

dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan

Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh

pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah

satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis,

maka orang tersebut hilang karena �diambil� oleh sang Ratu.

Selain Keraton gayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini

oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang

disebutkan bahawa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati,

penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan,

keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta

dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya

Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan

mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul.

Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang

diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang

penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk

datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul

dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda

pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas

Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun

yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang

perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah

salah satu simbol �gaib� yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi

Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika

anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa

mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu

orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah

sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia

tuangkan dalam sebuah lukisan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

8 Tanggapan to “Kanjeng Ratu Kidul [kadita]”

RSS Feed for Bumi Mataram Comments RSS Feed

boleh di tag nggak….????

hem critanya seru bolkeh dilanjutkan

cerita yang menarik

SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL
Tulisan ini dipersembahkan khusus bagi mereka yang ingin memahami kebenaran tentang misteri: Satrio Piningit, Imam Mahdi, Dajjal, Yesus Kristus, anti kristus, nabi Isa, Almasih dan Ratu Adil. Tulisan ini juga mengungkap misteri: Sabdo Palon Nayo Genggong, Nyi Roro Kidul, mahluk ruang angkasa, (UFO), leluhur bangsa israil dan benua atlantis
http://satriopiningitmuncul.wordpress.com/category/imam-mahdi-adalah-satrio-piningit/

Di jaman modern seperti sekarang ini percaya atau tidak percaya mengenai legenda kanjeng ratu kidul. Tapi antara percaya atau tidak, kanjeng ratu kidul terkadang mendatangi diri saya. Karena memang saya masih ada trah dari eyang sunan geseng yg notabene merupakan silsilah dari mataram purbo, majapahit dan pajajaran.

cerita yg meligenda semua kita hargai krn semua adalah mahkluk tuhan ada dan tidaknya tinggal manusianya karena sebagai manusia maunya yang nyata…hal yang gaib hanya sebagian kecil saja yang menguwasai alam gaib.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: