umum

Reog

Posted on Januari 1, 2012. Filed under: ARTIKEL, umum |

Pernah menyaksikan Reog Ponorogo? Kesenian tradisional asal Ponorogo, Jawa Timur ini, merupakan tarian yang sarat berbau mistik dan magis karena merupakan ungkapan dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Tarian ini sarat dengan upacara-upacara mistik, diantaranya dengan membakar dupa sebelum menggelar tarian.
Esensi dari Reog Ponorogo sendiri, merupakan perwujudan sendratari yang menggambarkan prosesi ‘prajurit berkuda Ponorogo’ (diwakili Kuda Kepang) dipimpin senopati ‘Bujangganong’ (diwakili penari topeng) untuk melamar putri Kediri. Dalam perjalanan pulang rombongan dihadang ‘Singabarong’ (diwakili Barongan) dan tentara harimaunya. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh prajurit Ponorogo.
Menurut kabar, Reog Ponorogo berasal dari jaman Kediri dibawah raja Airlangga (1045-1222). Secara sosial reog merupakan wujud dari usaha memadukan budaya Keraton dan budaya Pedesaan. Terlihat dari penggunaan instrumen gabungan yang berasal dari Keraton dan Desa, juga kepala Harimau menggambarkan elit kekuasaan sedangkan Merak menggambarkan rakyat desa.
Penari barongan yang disebut ‘Warok’ juga melambangkan kekuasaan sedangkan rakyat Desa digambarkan dalam ‘Penari Kuda Kepang’ yang halus. Dibalik unsur sosial ternyata Reog Ponorogo, adalah tarian yang berbau animisme yang berbeda dengan tarian lainnya.
Ada sebagian budayawan mengatakan bahwa yang mendorong lahirnya kesenian Reog Ponorogo, ialah adanya tradisi upacara adat pada jaman subur-suburnya kepercayaan animisme. Jaman dahulu orang-orang Jawa umumnya mempunyai kepercayaan kalau roh dari hewan yang telah mati dapat didatangkan lagi ke dunia ini seperti halnya roh manusia.
Roh tersebut didatangkan agar dapat menjaga keselamatan dan memberi kekuatan.
Adapun cara untuk menurunkan roh hewan, ialah dengan jalan melakukan upacara adat. Mereka mengenakan topeng hewan, kemudian menari-nari dengan asyik menantikan turunnya roh yang dimaksud
Bagi pemain-pemain kesenian reog, barongan adalah satu-satunya instrumen yang mendapatkan tempat utama. Ia dianggap sebagai benda keramat. Sehingga pada hari hari tertentu, dan pada setiap akan dipakai, sering orang membakar dupa (kemenyan) di hadapannya.
Disamping akar animisme yang dikandung, jelas tarian ini merupakan tarian mistik, bukti kuat mengenai ini adalah bahwa tarian ini dimainkan oleh Warok yang mempraktekkan mistik dan kekebalan kulit, karena itu ia menjauhkan diri dari perempuan. Tidak ada perempuan dalam rombongan, dan penari kuda kepang yang cantik merupakan lambang keperempuanan yang dipelihara sebagai gemblakan alias gundik. Ini menjurus praktek homoseksual.
Perangkat barongan yang berat dan yang sering diduduki penari lain di atasnya menunjukkan bahwa pemain harus benar-benar mempunyai kesaktian dan menguasai kekuatan mistik. Yang membedakan tarian ini dengan tarian daerah lain, adalah adanya semacam ilmu mistik yang mempengaruhinya.
Mereka menganggap bila reog tidak didukung oleh ilmu mistik, maka tidak ubahnya dengan sayur tanpa garam. Kesenian Tiban sebagai misal, dapat kita lihat bahwa pemain-pemainnya kebal akan cemeti yang berujungkan sebuah paku. Sedikitpun tak ada luka pada tubuhnya, meskipun berkali-kali ia pukul memukul.
Pemain kuda kepang (dari Reog Caplokan, dan juga jaran dhor) tampak tidak merasakan apa-apa kalau ia makan pecahan kaca. Tidaklah asing kiranya jika kita lihat si pemain kuda kepang dari Reog Ponorogo menari di atas kepala harimau, sedang si harimau sendiri berdiri di atas bahu seorang warok

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

makam giriloyo

Posted on Desember 21, 2011. Filed under: ARTIKEL, makam, umum |

menurut mitos atau legenda yg ada, Sultan Agung berniat utk dimakamkan di Mekah tapi tidak

masjid giriloyo sebelum di pugar

boleh oleh para ulama sana sebab bukan orang arab atau keturunan arab, lalu beliau pun membikin  keputusan diambilah batu dari sana lalu di lempar ke jawa sebagai perwakilan dari tanah suci Mekah, yg ngelempar adalah ulama jawa Sunan Kalijogo [mungkin pangeran kadilangu] dan jatuh di Giriloyo, tapi oleh Paman sultan Agung tempat itu sudah diminta olehnya utk pemakaman beliau sendiri. menurut kuncennya, jasad Sultan Agung memang sumare di Pajimatan Imogiri tapi ruh beliau bersemayam di Giriloyo, dan ketinggian antara Giriloyo dan Pajimatan adalah sama

tangga menuju makam giriloyo

 Makam Giriloyo dibangun pada tanggal 1 Februari 1788 M. Pasareyan Giriloyo terletak di arah selatan Keraton Yogyakarta (+ 17 km), tepatnya di wilayah Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Di dalam Situs Makam Giriloyo terdapat beberapa bangunan. Area makam ini terbagi menjadi tiga di mana masing-masing makam dikelilingi oleh pagar tembok bata. Halaman I terdapat 33 makam, 22 makam tidak diketahui identitasnya sedang lainnya adalah makam Sekaran Tiban (makam Sultan Agung dalam bentuk rohani), Kyai Guru Desti, Ngabehi Lor, Pangeran Haryobroto, Raden Tumenggung Haryobroto, Raden Adipati Banyuwangi.

Halaman II yang terdapat 6 makam, yaitu makam Panembahan Juminah, Kanjeng Haryo

makam utama

Mangkubumi Putro dalem ingkang Sinuwun Sedo Krapyak, Kanjeng Pangeran Haryo Sokowati putro dalem kasultanan Agungan, Kanjeng ratu Mas hadi/Ibu Sultan Agung, Raden Tumenggung Haryo Wongso dan kanjeng Pangeran Martosoko. Halaman III (halaman yang paling tinggi) terdapat makam Kanjeng Ratu Pembayun, istri Amangkurat.

Di sayap timur terdapat makam Kyai Ageng Sentong dan Kyai Ageng Giring berada dalam ruang tersendiri, sedang makam Panembahan Giriloyo/Kanjeng Sultan

pintu masuk makam pangeran cirebon

Cirebon  ini diberi pagar keliling. Makam di luar pagar keliling ada makam Wiroguno, makam Raden Ayu Nerang Kusumo, makam Kyai Juru Wiro Probho, makam Tumenggung Hanggobahu, dan makam prajurit.

PANGERAN CIREBON [PANEMBAHAN GIRILOYO]

Sedikit sekali informasi sejarah mengenai Panembahan Giriloyo

Berikut silsilah Pangeran cirebon [panembahan giriloyo]

makam pangeran cirebon

  1. Sunan gunung jati

  2. Pangeran pasarean

  3. Pangeran dipati carbon

  4. Pangeran emas [panembahan ratu 1]

  5. Panembahan adiningkusumah

  6. Pangeran rasmi atau abduk karim [panembahan ratu 2]

Panembahan Giriloyo pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram [Panembahan Giriloyo adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo]. Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Giriloyo dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Giriloyo di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.

batu yang di yakini dari makkah

Batu ini adalah batu yang berasal dari Makah yang di ‘kirim’ dari makah untuk dijadikam makam bagi Kanjeng Gusti Sultan Agung Prabu Hanyokro Kusumo. Batu ini ‘dilempar’ oleh Gusti Sunan Kalijaga. Batu ini jatuh pada gunung Makbul (berhasil). Pengolahan batu ini untuk menjadi makam, dilaksanakan oleh Tumenggung Wiro Probo.

Masyarakat sekitar menganggap bahwa batu ini jika dirangkul (dipeluk), dapat memberikan kekayaan yang berlimpah.Ada pula anggapan bahwa jika seseorang dapat mencakup batu yang kecil dengan kedua tangan , maka permintaannya akan terkabul

Sumur gali ini terdapat di sebelah Barat ra Sunan Cirebon +15 meter. Sumur ini dibangun Thn. 1997 oleh masyarakat Giriloyo dan para juru kunci makam Giriloyo.

sumur gali

Jika dilihat secara fisik, maka mustahil sumur itu ada airnya karena letaknya di atas bukit. Namun, kita tahu akan kebesaran serta kekuasaaan Allah yang bagi-Nya tak ada istilah yang tidak mungkin. Berkat dan barokah-Nya, setelah sumur itu selesai digali, sumur itu mengeluarkan air yang melimpah.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...